Prancis Merancang Regulasi Ketat untuk Fast Fashion: Apa Dampaknya?

Prancis mengambil langkah pertama untuk memerangi fast fashion secara perlahan dengan merancang regulasi yang ketat.

Dalam upaya membatasi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri fast fashion, Parlemen Prancis resmi mengadopsi rancangan undang-undang yang menargetkan perusahaan fast fashion serta influencer yang mempromosikan produk mereka.

Beberapa perubahan besar yang diusulkan dalam undang-undang ini meliputi:

  1. Pengenaan pajak lingkungan (eco-tax)
  2. Pelarangan iklan untuk produk fast fashion
  3. Kewajiban mengungkap informasi terkait keberlanjutan produk

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengatasi permasalahan besar seperti overproduksi pakaian dan penumpukan limbah tekstil yang tidak terkendali.

Untuk aturan pajak lingkungan, mulai tahun 2025 setiap produk dari brand fast fashion akan dikenakan pajak sebesar €5 (sekitar Rp100.000). Nilai ini akan meningkat menjadi €10 (sekitar Rp200.000) pada tahun 2030. Pajak tersebut dibatasi maksimal 50% dari harga jual agar tetap terjangkau oleh konsumen, namun tetap memberi insentif untuk beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, dana dari pajak ini akan dialokasikan untuk mendukung produsen fashion lokal di Prancis yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Peraturan ini secara tidak langsung menargetkan brand-brand besar yang sering kita temui seperti Shein, Temu, Zara, H&M, dan lainnya.

Tidak berhenti di situ, undang-undang ini juga melarang segala bentuk iklan yang berkaitan dengan fast fashion, termasuk promosi melalui media sosial yang dilakukan oleh influencer. Bahkan, influencer yang diketahui mempromosikan produk fast fashion akan dikenakan sanksi hukum.

Selain itu, aturan ini juga mewajibkan brand fashion untuk mencantumkan informasi transparan mengenai dampak lingkungan dari produknya. Hal ini mencakup data emisi karbon, penggunaan sumber daya, serta tingkat daur ulang (recyclability). Setiap produk nantinya akan diberi skor lingkungan (ecoscore) yang akan memengaruhi besarnya pajak yang dikenakan. Brand yang lebih ramah lingkungan akan dikenakan pajak lebih rendah, sementara yang tidak akan menghadapi denda hingga €10 per produk, atau maksimal 50% dari harga jual.

Baca juga: Tas Birkin Pertama Milik Jane Birkin akan Dilelang Bulan Depan di Sotheby’s

Sederet Masalah dari Brand Fast Fashion

Salah satu brand fast fashion yang paling sering disorot karena dampak lingkungannya adalah Shein. Sebenarnya, kritik terhadap Shein sudah banyak disuarakan oleh para fashion enthusiast, aktivis, hingga jurnalis, mulai dari isu limbah hingga praktik kerja yang dianggap tidak etis.

Emisi karbon yang tinggi
Brand asal China ini menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar akibat proses pengiriman produk yang cepat dan masif. Karena harus terus mengikuti tren dan musim, Shein memproduksi pakaian dalam jumlah besar, yang pada akhirnya berkontribusi besar terhadap limbah tekstil global.

Bahan baku yang tidak berkelanjutan
Sebagian besar produk Shein menggunakan bahan sintetis yang sulit didaur ulang, seperti serat plastik dan pewarna kimia beracun. Hal ini membuat pakaian mereka tidak hanya berdampak jangka pendek, tapi juga berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.

Desain yang tidak orisinal
Shein juga kerap dikritik karena diduga menjiplak desain dari bisnis-bisnis kecil. Tak jarang, beberapa produknya menimbulkan kontroversi karena dianggap menyinggung budaya tertentu.

Praktik kerja yang tidak etis

Menurut laporan BBC, jam kerja di pabrik-pabrik Shein sangat tidak manusiawi. Para pekerja bisa diharuskan bekerja hingga 75 jam seminggu. Jika dalam sebulan ada 31 hari, mereka akan bekerja sebanyak itu juga. Di hari kerja biasa, durasi kerja bisa mencapai 10–12 jam per hari, dan bahkan di hari Minggu mereka tetap bekerja selama 3 jam lebih. Semua ini karena sistem upah dibayar per potong pakaian. Semakin banyak produksi, semakin besar pendapatan, meskipun mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan pekerja.

Baca juga: Tarif, Trump, dan Tas: Apa Artinya untuk Industri dan Kita sebagai Konsumen?

Final Thoughts

Setelah mengulas berbagai dampak negatif dari industri fast fashion, menurutku, langkah yang diambil Prancis ini adalah sebuah langkah maju. Ketegasan mereka dalam membatasi dominasi fast fashion adalah contoh nyata bahwa keberlanjutan bisa dijadikan prioritas, bahkan di tengah tekanan ekonomi global.

Regulasi yang kuat terhadap isu tertentu memang punya kekuatan untuk menciptakan perubahan nyata. Akan tetapi, dampaknya baru akan terasa maksimal bila kebijakan serupa juga diterapkan secara global. But at least, Prancis sudah berani mengambil langkah pertama untuk memerangi fast fashion secara perlahan. Aku pribadi berharap negara-negara lain juga ikut bergerak demi menciptakan masa depan yang lebih bersih dan adil bagi lingkungan.

Images: Courtesy of Getty Images, Courtesy of BBC

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *