Tarif, Trump dan Tas: Apa Artinya Buat Industri dan Kita Sebagai Konsumen?

Hari pertama kembali ke kantor di The Luxury Reports setelah libur Lebaran.
Karena masih hari pertama, tentunya kami semua masih fresh dan recharged. Jadi sebelum kita kembali membahas favorit subjects seperti tas, sepatu, dan segala sesuatu yang luxurious, mari kita bahas sesuatu yang agak berat.

Berat, tapi punya impact besar buat industri fashion, beauty, dan juga buat kita sebagai konsumen.

Aku yakin banyak dari kalian sudah dengar tentang pajak impor baru yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di artikel ini, aku mau bahas dari sudut pandang: apa sih dampaknya buat kita sebagai konsumen?
Apakah artinya kita harus buru-buru borong legging Lululemon sebelum harganya naik? Let’s break it down.

Apa Itu Tarif Impor dan Apa yang Berubah?

Tarif impor = pajak untuk barang yang masuk dari luar negeri.

Selama ini, di Amerika Serikat tarif impor tergolong rendah dan nggak merata. Ada yang cuma 0.5%, ada yang 10%. Buat kita di Indonesia, ini bukan hal baru karena semua barang impor memang selalu kena pajak, makanya harga barang luar negeri di sini biasanya jauh lebih mahal dari harga di negara lain.

Nah sekarang, Amerika Serikat menetapkan pajak flat 10% untuk semua barang impor, dari negara manapun, produk apapun. Dan nggak cuma itu, ada tambahan pajak untuk beberapa negara tertentu, contohnya: China +34% (padahal sebelumnya mereka sudah dikenakan tarif lebih berat, sekarang total tarif mereka 54%), Vietnam +46%, Bangladesh +37% dan Indonesia: +32%

That’s a lot!

“Tapi kan Brand Indonesia nggak banyak yang ekspor ke Amerika?”

Mungkin benar, belum banyak. Tapi yang perlu diingat: pajak ini nggak cuma berlaku untuk finished goods. Berlaku juga untuk raw materials, mulai dari komponen elektronik, ikan, karet, sampai furniture. Jadi dampaknya ke Indonesia tetap ada, dan akan aku breakdown di bawah.

Apa Dampaknya ke Brand-Brand Global?

Kita semua familiar dengan brand-brand Amerika seperti Nike, Ralph Lauren, Coach, Tory Burch, Calvin Klein, Levi’s, Michael Kors yang banyak banget ditemui di mall dan sering kita pakai. Sebagian besar produk mereka diproduksi di China, Vietnam, Bangladesh, bahkan Indonesia. Di Amerika sendiri, lebih dari 70% produk fashion adalah barang impor. Selain brand yang sudah disebutkan juga ada brand dari negara lain seperti Adidas, Lululemon, bahkan Louis Vuitton, Chanel, sampai Hermès, yang punya pasar besar di Amerika. Dan mereka semua akan dikenakan pajak import sesuai negara asal produksinya. Jadi Cost of Good Sold brand-brand ini pastinya akan naik yang secara langsung akan mengurangi gross margin mereka.

Apa yang akan dilakukan brand-brand tersebut? Pastinya mereka punya kebijakannya masing-masing, dan semua tentunya masih mencari solusinya. Beberapa yang mereka bisa lakukan:

  1. Pass it down to consumers
    Harga langsung dinaikkan. Mungkin untuk luxury brands efeknya nggak terlalu terasa, karena tarif dari European Union masih tergolong rendah di 20%. Tapi tetap aja, wishlist kita akan makin mahal!
  2. Eat the cost themselves
    Artinya, mereka mengurangi profit margin. Untuk brand dengan margin besar mungkin masih bisa bertahan. Tapi buat yang marginnya udah tipis dan produksinya di negara kena pajak tinggi, berat sih.
  3. Split it with the manufacturer
    Bisa jadi mereka minta harga produksi diturunkan. Risiko yang ditakutkan mereka bisa memotong gaji pekerjanya yang akan mengakibatkan kesejahteraan tenaga kerja dan chain reaction di ekonomi.
  4. Downgrade the quality
    Tetap jual di harga sama tapi dengan kualitas lebih rendah. Kalau ini, kita sebagai konsumen akan dirugikan karena produk-produknya jadi nggak akan bertahan lama. Sampah juga jadi makin banyak, bad for the planet.
  5. Increase the price only for US Markets
    Beberapa brand sudah mendistribusikan produknya langsung ke negara-negara tujuan dari manufacturernya. Jadi harusnya tidak ada biaya tambahan untuk pengiriman ke negara lain, hanya ke Amerika Serikat. Ini skenario yang menarik buat kita di Indonesia. Bisa jadi harga di sini tetap stabil atau bahkan lebih murah dibanding di US.
Dampaknya untuk Indonesia?

Ada banyak hal yang bisa terjadi, dari mulai efek langsung sampai efek domino lainnya.

  • Positifnya, mungkin ini bisa jadi peluang untuk Indonesia karena brand-brand akan melirik Indonesia untuk memindahkan produksi dari China atau Vietnam karena pajak untuk Indonesia tidak sebesar di dua negara tersebut. Kesempatan besar sebenarnya untuk menarik foreign investment. Tapi apakah semudah itu? Sebaliknya, bisa juga brand-brand yang biasa memproduksi di Indonesia jadi melirik negara lain yang tarif ekspor ke Amerika Serikatnya lebih rendah dari Indonesia. And this is a scary thing.
  • Kalau mereka hanya menaikan harga di pasar Amerika Serikat seperti yang aku tulis di atas, harga di Indonesia bisa tetap sama. Good news buat retail lokal karena konsumen akan lebih belanja di dalam negeri.
  • Amerika Serikat adalah pasar besar. Kalau mereka belanja lebih sedikit, ekspor dari berbagai negara, termasuk kita, akan terdampak. Produksi turun = potensi pengurangan tenaga kerja yang kita tau sendiri apa efeknya kalau PHK di mana-mana.
  • Kalau produksi untuk Amerika Serikat jadi berkurang, bisa jadi pabrik di China atau Vietnam harus menaikan harga untuk klien non-US (termasuk Indonesia) demi menutup kerugian dari Pasar Amerika Serikat. Imbasnya: harga barang lokal pun bisa naik.
  • Lalu, kalo banyak brand mengurangi ekspor ke Amerika Serikat, mungkin mereka akan mencari pasar baru, salah satunya Indonesia. Kita akan dibanjiri produk-produk luar yang akan mengancam brand lokal kita.
  • Pengurangan ekspor dari Indonesia artinya semakin sedikit transaksi internasional yang dilakukan dalam Rupiah. Kalau permintaan terhadap Rupiah menurun, sementara permintaan terhadap mata uang asing tetap atau meningkat, nilai tukar Rupiah bisa melemah.
Apa yang Akan Dilakukan Pemerintah Indonesia?

Kita masih menunggu langkah konkret dari Pemerintah kita. Beberapa negara seperti China sudah langsung membalas dengan pajak 34% untuk barang dari Amerika Serikat. European Union juga sedang siapkan opsi balasan. Presiden Prabowo sudah berdiskusi dengan Presiden/PM ASEAN, dan para menteri ekonomi ASEAN juga akan bertemu minggu depan. Semoga kita bisa melobby dengan baik sehingga diberi keringanan untuk Indonesia, ya. Sayangnya, sampai sekarang Indonesia belum punya duta besar untuk Amerika Serikat. Jadi tidak ada yang bisa menjembatani secara langsung di sana untuk saat ini.

Dari sudut pandang Amerika, mereka merasa Indonesia sudah lama mengenakan pajak tinggi untuk barang dari Amerika Serikat. Contohnya: karena aku punya brand parfum, aku tahu kalau ethanol dari Amerika Serikat dikenakan pajak 30%, padahal barang kita ke sana cuma dikenakan 2.5%. Trade deficit-nya juga besar yang artinya Amerika Serikat lebih banyak impor dari Indonesia dibanding kita impor dari sana. Plus, mereka menilai kita kurang serius dalam isu-isu seperti Intellectual Property di mana barang palsu masih sangat banyak di sini. Begitu juga regulasi halal certification yang dianggap menghambat produk mereka untuk masuk ke Indonesia.

So, What Should We Do?

Di The Luxury Reports, we are a big advocate on quality over quantity. Mungkin ini saat yang tepat untuk jadi lebih mindful dalam berbelanja. Kalau harga barang tersier makin mahal, kita juga otomatis jadi lebih selektif. Membeli yang benar-benar akan kita pakai, memilih produk yang berkualitas baik dan tahan bertahun-tahun, memakai produk dari brand-brand yang ethical, yang proses produksinya lebih sustainable dan juga mengedepankan fair play untuk semua yang terlibat. Investasi tentu menjadi sesuatu yang lebih penting lagi, dan akan kami bahas juga di The Luxury Reports.

Dan tentunya, selalu ada The Luxury Reports dan member-membernya di forum yang bisa membantu kita untuk menjadi konsumen yang lebih well-informed.

What do you think? And what’s your plan, sebagai konsumen di tengah perubahan ini?

Share your love

No comments yet

  1. Bijak lah dalam mengelola keuangan. Belilah barang yang benar-benar kita butuhkan, jangan menumpuk barang yg tidak perlu, kedepan perekonomian akan semakin sulit, belajarlah menabung hari-hari ini dan jeli dalam berinvestasi, karena musim dingin akan segera datang.

  2. Selain ngikutin the luxury reports untuk luxury eye candies nya, artikel seperti ini bagus banget buat readers jadi lebih aware dengan kondisi global market.

    Setelah covid, perang dan sekarang US tariffs, terasa juga pengaruhnya di second hand luxury market.

    Considering the situation and needs, some people let go of very nice B, K, C and classic flaps for closer to retail price; while some with higher price tags stayed longer on the market waiting for the right buyer.

    Thanks for another great post that keeps me coming back ^^

  3. this is so insightful! jadi wake up call buat lebih bijak dan selektif kalau belanja. (tapi belanja ga bijak sbnrnya asik) 😂😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *