Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat

Mengapa Kita Harus Berhati-hati terhadap Tren?
Share your love
Tahun baru, tren baru. Namun, bukan berarti semuanya harus kita serap dan terapkan.
Sebenarnya, jauh sebelum tahun baru dimulai, kita sudah disuguhkan beragam ramalan fashion yang akan datang. Seperti yang kita semua tahu, prediksi tren fashion biasanya sudah ada dari jauh-jauh hari, misalnya saja Fashion Week atau runway untuk Spring/Summer 2026 sudah digelar sejak September tahun sebelumnya. Pantone Color of The Year untuk tahun depan juga biasanya diumumkan setiap bulan Desember.

Dunia fashion memang terkenal dengan pembagian musimnya yang hanya dua, yaitu Spring/Summer dan Fall/Winter, tapi sebenarnya tren yang ada selama setahun itu ada sangat banyak sekali. Untuk kategori Spring/Summer saja bisa ada lebih dari 5 tren besar. Bahkan bukan hanya fashion, industri kecantikan atau beauty yang juga sangat berkaitan dengan mode, juga memiliki beragam tren tersendiri. Fashion dan beauty memang dunia yang serba cepat, dan kalau mengikuti semuanya, tentu saja melelahkan.
Di awal tahun seperti bulan Januari sekarang ini, kamu akan melihat beragam tren di mana-mana. Itu memang diperlukan sebagai informasi global yang bisa membantu setiap orang menentukan gaya, sekaligus juga membantu para brand untuk merilis produk-produk baru yang sesuai.
Namun, tren bukanlah sebuah tuntutan yang wajib dipenuhi. Jadikan tren sebagai wawasan baru yang menyegarkan, ikuti secukupnya, yang memang membuat kamu (atau posisi brand kamu) jadi lebih baik.
Ini beberapa alasan mengapa kita harus berhati-hati dengan tren.
Mendorong Jadi Impulsif dan Menyuburkan FOMO

Dengan adanya beragam tren dan kita terpapar setiap harinya dengan kemudahan arus teknologi saat ini, tren bisa membuat kita menjadi impulsif. Ini disebabkan oleh perpaduan faktor sosial (pengaruh teman atau para influencer dan content creator), faktor psikologis (kepuasan instan, emosi, dan FOMO), faktor pemasaran (iklan terus-menerus, diskon besar-besaran), hingga faktor kecanggihan digital (online shopping, paylater).
FOMO (Fear of Missing Out) memang telah lama menjadi budaya, terutama setelah beragam media sosial jadi bagian dari hidup kita. Rasa ingin terus up-to-date, takut dianggap ketinggalan zaman, sering muncul dan membuat kita ingin membeli barang yang sedang tren meskipun tidak benar-benar kita butuhkan. Belanja tren terbaru ini juga sangat berkaitan dengan psikologis, seperti yang sudah disebutkan di atas, karena membawa dopamin atau kesenangan sesaat. Di dunia yang melelahkan ini, pasti banyak orang yang sering mengalami ini. Saat stres atau bosan, emosi bisa mengalahkan logika, sehingga kita menuruti tren yang menguasai pikiran kita dengan dalih “self-reward”.
“Aku sudah bekerja keras, aku butuh baguette bag baru yang sedang hits, atau perlu pelesir ke Vietnam yang lagi viral di media sosial.” Hati-hati, bisa jadi setelahnya kita makin stres karena menyesal, tabungan terpakai, atau bahkan berhutang lewat paylater.

Tips: Di antara semua tren yang ada, pasti banyak yang tidak sesuai dengan personality kita, bentuk tubuh kita, keperluan kita, atau kondisi keuangan kita. Hanya ikuti yang benar-benar kamu sukai dan memang “kamu banget”.
Sebagai contoh, kalau gaya coquette jadi tren, sementara kamu adalah sosok yang menyukai animal print, tentu artinya tidak sesuai dan tidak perlu dibeli. Ketika kamu menyukai isi lemari yang berwarna basic, maka mempunyai rok polkadot yang sedang tren bukanlah keputusan yang tepat. Kalau kamu punya torso yang panjang, membeli drop waist dress hanya akan membuat torso kamu lebih panjang dan badanmu jadi terlihat tidak proporsional. Atau, jika badan kamu tidak terlalu tinggi, memakai barrel pants akan membuat kamu tampak semakin pendek.
Baca juga: Bicara tentang Fashion, in This Economy!
Menumpuk Barang Tidak Terpakai

Membeli barang yang tidak kita perlukan atau tidak sepenuhnya kita sukai, akan berujung menumpuk barang tidak terpakai. Artinya kita jadi membuang-buang uang untuk sesuatu yang hanya menganggur di sudut kamar kita atau menjadi sampah di rumah kita. Dengan sudah banyaknya limbah fashion di dunia, kalau kita belum bisa mendaur ulang pakaian sendiri atau membeli brand yang hanya benar-benar menggunakan material ramah lingkungan, paling tidak kita harus bisa mindful shopping dan memilah-milah mana yang sekiranya akan sering dipakai.

Tips: Diskon dan flash sale akan selalu ada di era digital seperti sekarang ini, tapi kamu harus menahan diri untuk tidak mudah tergoda. Punya daftar goals utama yang ingin kamu wujudkan akan membantu kamu tidak mudah berbelanja barang-barang “receh” dan mudah rusak, karena dananya akan dialokasikan untuk hal yang lebih besar. Berbenah atau declutter sebulan sekali, sumbangkan barang-barang yang sudah tidak terpakai atau sudah tidak muat lagi, bahkan kamu bisa buat garage sale dan jual preloved. Selain bikin rumah lebih rapi, pikiran pun akan lebih jernih, isi lemari juga jadi tidak sesak dan bisa memuat barang-barang akan datang, yang kamu inginkan sepenuh hati.
Baca juga: Glashka, Brand Lokal yang Mewarnai Industri dengan Bordir Handmade dan Bahan Alami
Tidak Menjadi Diri Sendiri

Semakin dewasa, semestinya kita semakin bisa tahu mana yang memang mewakili diri kita, mana yang bisa menghadirkan sparks dan yang tidak. Asal-mengikuti semua tren akan membuat kita jadi sosok yang tidak kuat personality-nya. Bukannya jadi keren, pergantian gaya yang terlalu sering malah akan bikin kita terlihat membingungkan, tidak jadi diri sendiri. Maka, kembali lagi, mengenali diri sendiri lebih dalam adalah hal yang penting, untuk tahu mana saja tren yang memang mendeskripsikan diri kamu dan layak dibeli.

Tips: Buat style moodboard , misalnya di Pinterest. Ini bisa membantu kamu untuk memahami mana yang benar-benar kamu suka, dan menyusun wishlist yang mana yang perlu ada di lemari kamu dan mana yang tidak. Mencoba color analysis untuk mengetahui personal color kamu juga akan membantu kamu memilih pakaian yang warnanya bisa meng-highlight kecantikan alami kamu, jadi kamu tidak membeli barang yang membuat kamu terlihat kusam, berujung tidak dipakai, dan berakhir sia-sia.
Baca juga: Eksperimen Mengikuti Tren Gaya Oriental dalam Gaya Kasual
Tren adalah elemen pelengkap yang bisa membuat kita jadi lebih fresh, tampil lebih percaya diri. Tapi, tidak perlu semuanya kita ikuti, karena kita sebagai sosok pribadi atau sebagai brand, tentu memiliki DNA sendiri yang harus dijaga untuk membuat kita jadi lebih spesial. It makes us, us.
Mengikuti tren dengan lebih bijak akan membantu kita tetap on track, baik secara finansial maupun jati diri. Bagaimana menurut kamu?
