Baju Lebaran, Perspektif Baru: Outfit Raya Terbaikmu Mungkin Sudah Ada di Dalam Lemari

Bagaimana jika outfit Lebaran terbaikmu sebenarnya sudah ada di lemari? Ketika tren selalu berubah setiap Hari Raya, mungkin yang perlu diperbarui bukan isi lemari kita, melainkan cara kita melihatnya.

The “Baju Baru” Expectation

Setiap menjelang Lebaran, ada ekspektasi yang hampir terasa otomatis: Hari Raya berarti baju baru. Brand merilis koleksi Raya dengan warna yang terasa “musiman”, media sosial dipenuhi tren outfit Lebaran, dan tunjangan hari raya (THR) sering kali menjadi alasan sempurna untuk membeli sesuatu yang baru.

Ekspektasi ini kadang datang dari lingkungan sosial kita sendiri. Mulai dari percakapan ringan seperti “baju lebaran tahun ini apa?”, hingga kebiasaan berfoto bersama keluarga yang tanpa sadar menciptakan dorongan untuk tampil berbeda setiap tahunnya. Dalam banyak kasus, tekanan tersebut tidak selalu terasa eksplisit, namun cukup kuat untuk membuat baju baru terasa seperti bagian yang “harus” dari perayaan Lebaran.

Di balik siklus tahunan ini, ada satu fakta yang cukup mengejutkan, yakni rata-rata setiap orang hanya menggunakan pakaian mereka sekitar tujuh hingga sepuluh kali, sebelum akhirnya tidak lagi digunakan lagi. Bahkan secara global, frekuensi pemakaian pakaian telah turun lebih dari 35% dalam 15 tahun terakhir, menunjukkan betapa cepatnya pakaian bergeser dari sesuatu yang dipakai berulang kali menjadi sesuatu yang cepat diganti. 

Dalam konteks ini, tradisi baju baru Lebaran kadang berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip occasion wear: pakaian yang dibeli khusus untuk satu momen, lalu jarang tersentuh lagi setelahnya. Padahal, jika dilihat kembali, banyak dari kita sebenarnya sudah memiliki pakaian dengan potongan yang cocok untuk Hari Raya: dress yang jarang dipakai, tunik yang terlupakan, atau batik yang hanya keluar dari lemari pada acara tertentu.

Melihat Kembali Lemari Kita

Jika dilihat kembali, banyak pakaian kita yang sebenarnya bisa dengan mudah berfungsi sebagai outfit Lebaran. Kuncinya ada pada bagaimana kita mengidentifikasi potongan yang sudah ada di lemari dan menatanya dengan cara yang berbeda. Dress panjang, tunik, lace dress, hingga batik yang biasanya hanya dipakai untuk acara tertentu sebenarnya memiliki siluet yang sangat cocok untuk suasana Idul Fitri, tinggal bagaimana kita mengemasnya sebagai outfit hari raya.

Salah satu cara paling sederhana adalah dengan melihat kembali pakaian yang jarang dipakai, khususnya yang memiliki material atau siluet yang lebih occasion-ready. Long dress yang sebelumnya terasa terlalu formal untuk sehari-hari, misalnya, bisa dengan mudah menjadi baju Lebaran. Begitu pula dengan tunik panjang yang dipadukan dengan tailored pants, atau dress berbahan lace yang selama ini hanya dipakai untuk acara spesial.

Lalu bagaimana dengan tren warna Lebaran yang selalu berubah setiap tahun? Jika beberapa tahun lalu warna seperti sage green sempat mendominasi, musim Raya belakangan ini mulai dipenuhi palet yang lebih lembut, dengan butter yellow muncul sebagai salah satu warna yang paling sering terlihat. Namun, mengikuti tren warna tidak selalu berarti harus membeli pakaian baru. Pendekatan yang lebih mindful bisa dilakukan dengan cara melihat kembali isi lemari: dress putih yang sudah lama dimiliki, tunik krem, atau batik dengan tone yang serupa sering kali bisa memberikan nuansa yang sama tanpa perlu menambah pakaian baru.

Hal yang sama berlaku ketika keluarga memutuskan untuk membuat dress code saat Lebaran. Seragaman Lebaran tidak selalu berarti semua orang harus membeli pakaian baru. Dress code dapat dibuat dalam bentuk palet warna senada, sementara model tetap memanfaatkan dari pakaian yang sudah dimiliki. Dengan cara ini, outfit keluarga tetap terlihat harmonis di foto Lebaran, tanpa harus menambah pakaian yang mungkin hanya akan dipakai sekali.

Sering kali, yang membuat sebuah outfit terasa Raya-ready bukanlah karena pakaian itu baru, melainkan karena cara kita menata dan memakainya dengan lebih intentional. Dalam banyak kasus, outfit Lebaran terbaik sebenarnya bukan yang baru dibeli, melainkan yang sudah ada di lemari, hanya menunggu untuk dipakai dengan cara yang berbeda.

Baju Lebaran, Perspektif Baru

Memilih untuk lebih mindful saat berbelanja bukan berarti kita sama sekali tidak boleh membeli baju baru. Lebaran tetap menjadi momen spesial, dan wajar jika banyak orang ingin merayakannya dengan sesuatu yang terasa baru. Namun ketika kita memutuskan untuk membeli sesuatu yang baru di Hari Raya ini, yang bisa dipikirkan kembali adalah bagaimana kita berbelanja. Jadi bukan sekadar menambah pakaian, tetapi juga melakukannya dengan lebih sadar.

Salah satu pendekatan yang semakin banyak dibicarakan dalam fashion adalah konsep fewer but better pieces. Daripada membeli pakaian yang hanya terasa relevan untuk satu occasion saja, pilihan yang lebih mindful adalah mencari potongan yang benar-benar disukai dan cukup versatile untuk dipakai kembali. Sebuah dress dengan siluet klasik, tunik yang mudah dipadukan dengan berbagai bawahan, atau setelan yang tetap terlihat relevan bahkan setelah Hari Raya usai, biasanya memiliki umur pakai yang jauh lebih panjang dibandingkan pakaian yang dibeli hanya karena tren sesaat.

Pendekatan ini juga sering kali berkaitan dengan craftsmanship, atau cara sebuah pakaian dibuat. Memperhatikan kualitas bahan, teknik jahitan, hingga detail pengerjaan bisa membuat sebuah potongan terasa jauh lebih tahan lama dan bernilai. Seringkali, pakaian dengan craftsmanship yang baik justru lebih mudah menjadi bagian dari wardrobe jangka panjang, karena tetap terlihat rapi setelah dipakai berulang kali.

Di sisi lain, ada juga alternatif yang semakin menarik untuk momen seperti Lebaran, seperti layanan penyewaan baju. Untuk mereka yang ingin mencoba warna, siluet, atau desain yang lebih statement, menyewa pakaian bisa menjadi pilihan yang praktis. Kita tetap bisa merasakan sensasi mengenakan sesuatu yang berbeda untuk hari raya, tanpa harus menambah pakaian yang mungkin hanya akan dipakai sekali ke dalam lemari.

Pada akhirnya, berpakaian secara mindful saat Lebaran bukan berarti menghilangkan kesenangan berbelanja atau berdandan untuk Hari Raya. Sebaliknya, ini tentang membuat keputusan yang lebih sadar, apakah itu dengan memilih potongan yang lebih versatile, menghargai craftsmanship, atau mencoba alternatif seperti rental ketika dibutuhkan.

Images: Courtesy of Sejauh Mata Memandang, The Kartinis, Zalora Singapore, Sueka Sueka.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *