Kalimat sakti ini berulang kali muncul di video dan caption: “In this economy…”.
Sebuah frasa yang awalnya mungkin sekadar meme di TikTok atau keluhan jenaka di X, sekarang sudah berubah menjadi sindiran ekonomi yang penuh ketidakpastian di era modern.
Riset singkat menunjukkan bahwa kalimat “In this economy..” awalnya populer karena kecemasan kolektif yang mencakup biaya hidup yang meroket, pendapatan stagnan, status sosial yang perlu dipelihara, sampai masa depan di negara ini yang terasa suram. Ini bukan kondisi main-main.
Artikel ini tidak akan membahas grafik inflasi atau strategi investasi saham. Kita akan membahas sesuatu yang sama pentingnya: personal style. Ketika kita harus lebih mempertimbangkan pengeluaran, bagaimana dengan keinginan kita untuk tetap tampil stylish, relevan, dan ekspresif?
Sebenarnya, menempatkan fashion ‘in this economy’ bukanlah tentang batasan, melainkan kecerdasan. Ini adalah ajakan untuk mengubah cara kita mengatur wardrobe, mengubah mindset terhadap uang, sampai merencanai waktu berbelanja secara cerdas.
Jebakan Viral
Mari kita bicara jujur. Godaan itu nyata.
Sepatu yang dipakai semua influencer, tas yang jadi rebutan, jaket dari label fast fashion yang muncul di setiap unggahan Instagram, sampai beauty brand dari another celebrity. “In this economy,” membeli barang mahal atau viral secara membabi buta karena FOMO bukan lagi sekadar pemborosan. Ini adalah keputusan finansial yang kelak merugikan kamu.
Mengagungkan label harga sebagai tolok ukur status, sekarang sudah menjadi hal yang tidak perlu. Barang yang viral hari ini bisa jadi terlupakan bulan depan, meninggalkan kamu dengan penyesalan dan tumpukan benda mahal yang terhitung out of trend. Kecerdasan gaya yang sejati di era ini ada pada kemampuan untuk melihat lebih jauh dari tren sesaat, dan mulai “membangun” sesuatu yang lebih bernilai dan bertahan lama: sebuah “portofolio gaya”.
Investasi In This Economy
Anggap saja diri kamu sebagai seorang manajer investasi, dan lemari kamu adalah portofolionya. Tujuannya bukan untuk menghabiskan uang paling banyak, tapi untuk mendapatkan “imbal hasil” gaya yang maksimal dari setiap “aset” yang kamu miliki.
Berikut 7 strategi investasi cerdas untuk menavigasi dunia fashion ‘in this economy’.
In This Economy Beli Tas Desainer Ratusan Juta?!
Strategi: Fokus pada “Saham Blue-Chip”.

Daripada mengincar tas seasonal yang harganya setara dengan DP rumah, di ekonomi seperti yang sekarang ini lebih baik kamu investasikan dana pada aset fundamental. Setaranya dalam fashion adalah 5-7 classic items dengan kualitas tinggi yang dapat dipakai berulang kali, di berbagai agenda. Contohnya, blazer dengan cutting sesuai bentuk badan, kemeja putih katun yang adem, celana bahan, dan leather bag tanpa logo, atau dengan logo simpel yang elegan.
Ini adalah manifestasi dari tren global “Quiet Luxury”: kemewahan yang tidak berteriak, tapi berbisik lewat kualitas dan daya tahan.
In This Economy Ikut War Setiap Ada Barang Viral?!
Strategi: Perlakukan sebagai “Saham Spekulatif/Gorengan”.

Tentu, mengikuti tren itu menyenangkan. Tapi anggap barang viral seperti sepatu unik dan aneh, warna neon, atau motif ramai, sebagai saham yang sangat fluktuatif. Alokasikan tidak lebih dari 10-15% budget Anda untuk “berspekulasi” di sini. Fokus pada aksesori seperti scarf, atau satu atasan yang bisa langsung menginjeksikan kebaruan pada “saham blue-chip” kamu. Dengan begitu, saat trennya berakhir, portofolio utama kamu tetap aman dan tidak merugi.
In This Economy Beli Baju Baru Terus?!
Strategi: Lakukan “Value Investing” saat thrifting.

Lupakan citra Pasar Senen yang panas dan berdesakan. Anggap thrifting (baik offline maupun online) sebagai aktivitas berburu harta karun. Kamu mencari “saham” berkualitas yang sedang “salah harga”. Seperti jaket denim vintage, kemeja sutra, atau tas berbahan kulit unik bisa kamu dapatkan dengan harga miring. Nah, kalau ini adalah implementasi langsung dari tren global yang disebut “Circular Fashion” dan Archival Fashion, di mana keunikan dan sejarah sebuah item justru menjadi nilai tambahnya.
Baju Rusak Sedikit Langsung Dibuang, In This Economy?!
Strategi: Rawat Aset untuk Mendapat “Dividen”.

Kancing lepas? Warna sedikit pudar? Sobek kecil? “In this economy,” mentalitas “pakai-buang” adalah pemborosan level akut. Memperbaiki, merawat, dan bahkan melakukan upcycling (mengubah fungsi atau desain) pada pakaian lama adalah cara Anda mendapatkan “dividen” dari investasi awal. Tren global “Mending” (seni menambal) kini justru dianggap sebagai sentuhan personal yang artistik dan unik.
In This Economy Mengandalkan Brand Luar Negeri Saja?!
Strategi: Jadilah “Angel Investor” untuk Brand Lokal.

Di tengah gempuran brand internasional, ada banyak “startup” fashion lokal yang potensial. Menjadi “angel investor“ berarti kamu mengalokasikan dana untuk mendukung brand lokal yang menawarkan kualitas, desain otentik, dan cerita yang kuat. Ini sejalan dengan tren “Hyper-localism“, di mana konsumen global semakin menghargai produk yang memiliki akar budaya dan dibuat oleh komunitas sekitar. Kamu tidak hanya mendapatkan pakaian, tapi juga bagian dari sebuah cerita.
In This Economy Punya Baju Segunung Tapi Bingung?!
Strategi: Bangun “Portofolio yang Efisien” dengan capsule wardrobe.

Memiliki banyak baju, celana, rok, dan sebagainya, tapi selalu merasa “nggak punya baju” adalah tanda portofolio yang tidak efisien. Coba deh, terapkan prinsip capsule wardrobe: 30-40 item pilihan (termasuk “saham blue-chip” kamu) yang bisa dipadu-padankan menjadi ratusan kombinasi. Tren “Uniform Dressing” yang dipopulerkan oleh para jenius di Silicon Valley membuktikan bahwa memiliki “seragam” andalan adalah puncak dari efisiensi dan gaya personal yang matang.
Ganti Gadget Setiap Tahun, In This Economy?!
Strategi: Lakukan “Investasi Infrastruktur” yang tahan lama.

Gaya personal sekarang ini tidak lepas dari canggihnya teknologi. Tapi, daripada terjebak siklus upgrade gadget tahunan, coba kamu investasikan pada “infrastruktur” yang mendukung gaya kamu secara jangka panjang. Seperti Garment Steamer: Alat ini merawat “saham blue-chip” milik kamu tadi lebih baik dari setrika biasa, menjaga bahan tetap awet dan bebas kusut. Atau smartphone dengan feature kamera terdepan (yang tahan 3-4 tahun): Untuk para profesional media atau siapa pun yang ingin mendokumentasikan gayanya, kamera smartphone yang bagus adalah aset. Pilih model yang terkenal awet, bukan yang terbaru. Ini adalah investasi pada citra personal kamu.
Aset Terbesar Anda adalah Kreativitas
“In this economy,” tekanan finansial memang nyata. Tapi seperti yang telah kita lihat, ini justru menjadi dorongan untuk sebuah revolusi gaya yang lebih cerdas, personal, dan memuaskan. Yuk, berhenti melihat lemari kamu sebagai tumpukan garments, dan mulailah melihatnya sebagai portofolio aset yang dinamis.
Aset terbesar kamu untuk tampil memukau bukan kartu kredit dengan limit yang tak terbatas, melainkan kreativitas, kecerdasan, dan keberanian untuk mendefinisikan ulang apa artinya “keren”.
Images: Pexels

