Tidak semua brand ingin yang serba cepat. Glashka menjadi salah satu label fashion yang layak dikenal lebih jauh, karena mendukung slow fashion, memiliki craftmanship unggul, menggunakan natural material, dan memberdayakan pengrajin lokal.
Disibukkan dengan event Beauty, Fashion, and Fragrance Festival 2025 beberapa bulan lalu, membuat The Luxury Reports bisa mengenal banyak sosok penting dan sederet brand menarik di industri fashion dan kecantikan. Salah satu yang sangat menarik perhatian kami adalah Glashka, brand yang terkenal dengan elemen bordir cantik pada koleksi pakaian mereka. Ternyata, lebih dari itu, kisah Glashka yang bertumbuh di masa-masa sulit dan berdedikasi memakai bordir buatan tangan, ternyata memberikan banyak inspirasi dan sudut pandang baru.


Simak bincang-bincang seru antara The Luxury Reports dengan founder Glashka, Ega Augustia, dan creative director-nya, Indira Hapsari, ketika Glashka merilis koleksi terbaru, “Senyawa”, akhir Agustus lalu.

The Luxury Reports: Apa yang melatarbelakangi hadirnya Glashka? Awalnya hanya fokus di hijab ya?
Ega Augustia: Kami lahir tahun 2018. Benar, awalnya produknya hanya hijab, tapi kami memakai hiasan bordir manual, karena aku memang suka dengan sentuhan bordir. Saat itu laris manis, tapi lalu pandemi di 2020. Nggak disangka, ternyata pandemi justru jadi momen pertumbuhan Glashka. Kami diajak untuk bergabung di FashionLink, Senayan City. Awalnya, aku agak ragu, karena banyak orang berbelanja online saat pandemi dan menghindari ke mal. Tapi, ternyata sambutannya dan penjualannya cukup baik. Akhirnya kami percaya diri untuk melebarkan sayap ke produk pakaian.
Selain itu, yang paling membuat aku yakin untuk terus mengembangkan Glashka adalah hasil karya para pengrajin bordir ini. Mulai dari memindahkan gambarnya ke kain, merangkai sulaman bunganya satu per satu, semua bukan proses yang mudah. Butuh ketelitian yang tinggi untuk menciptakan hiasan bordir pada satu baju saja. Jadi, aku merasa harus mempertahankan bordir manual ini, di kala semua hal mulai dikomputerisasi. Menurutku, keahlian para pengrajin ini harus lebih banyak yang tahu. Profesi mereka sudah mulai langka, lapangan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan mereka juga sudah semakin sedikit. Jadi, aku ingin banget komunitas pengrajin bordir ini punya tempat untuk berkarya.
The Luxury Reports: Sejak bergabungnya Kak Indira, apa perbedaan yang dirasakan di Glashka? Untuk pembagian role-nya seperti apa?

Ega Augustia: Aku founder dan desainer, sementara Indira adalah collaborator dan creative director. Indira baru join setahun lalu, untuk memberikan suasana baru yang lebih segar di Glashka. Karena tentunya sebuah brand harus ikuti perkembangan zaman, memerhatikan market, dan kami merasa butuh catch-up dengan generasi yang lebih muda seperti Gen Z. Bukan untuk mengubah DNA Glashka, tapi untuk kasih warna baru. Tadinya produk Glashka hanya seputar earth tones saja, tapi sekarang ada warna-warna pastel seperti biru muda, butter yellow, baby pink.
Indira Hapsari: Aku sangat senang diajak Kak Ega untuk bergabung dengan Glashka. Aku merasa brand ini sudah punya DNA atau signature style yang kuat, yaitu bordir manualnya. Tapi, kami ingin bordir manual ini nggak terlalu berkesan vintage. Bisa lebih fresh, dipakai untuk daily dan anak-anak muda. Aku ini tergolong banyak maunya untuk perihal desain, dan aku kagum banget karena dia bisa menerjemahkan keinginan-keinginan yang aku bayangkan tersebut. Senang banget karena kami bersinergi dengan sangat baik.
Ega Augustia: Indira ini super detail orangnya. Semenjak ada dia, aku justru terpacu, karena aku yakin para pengrajin itu bisa membuatnya. Menurut aku, kalo bordir tangan ini, nggak ada batasnya. Pemilihan benang bisa lebih beragam, arsiran dan teksturnya bisa dipilih dan di-customize.


The Luxury Reports: Boleh diceritakan nggak bagaimana proses pembuatan bordirnya? Berapa banyak pengrajinnya? Mengingat ini adalah handmade, pasti pembuatannya tidak mudah dan jadi proses kreatif yang seru di balik brand ini.
Ega Augustia: Jadi, kami punya sebuah workshop di Tangerang Selatan, para pengrajin kami tinggal dan kerja di sana, ada 7 orang, semuanya berasal dari Tasikmalaya. Ada yang bertugas menggambar, ada yang memindahkan master desaign ke kain, ada yang bertugas membordir. Ini memang bukan pekerjaan yang mudah, makanya kami sangat menikmati dan menghargai proses itu. Di sanalah seninya, perbedaan kami dari yang lain.

The Luxury Reports: Bagi kalian, apa saja keunikan menjadi brand lokal yang mengusung craftmanship dan sustainability?
Ega Augustia: Awalnya, memang nggak mudah untuk menembus pasar, karena awareness-nya memang masih terbatas. Belum banyak orang yang mau memilih bahan alami, menghargai para pengrajin lokal, menghargai lingkungan, dan lain-lain. Kami pakai 90% linen, lalu banyak aksesori yang kami buat dari sisa kain produksi, seperti bros, sepatu, tas, dan topi.
Untuk memperkenalkan ini, kami awali dengan mengedukasi dulu, kami buat post Instagram yang menjelaskan proses gambarnya, bordirnya, dan sebagainya. Lama-kelamaan customer jadi lebih paham, bahkan mereka mau menunggu PO sampai 1 bulan, karena mereka tahu, pembuatannya tidak instan. Akhirnya kami mendapat pasar sendiri, yang memang menghargai value Glashka.

Indira Hapsari: Setiap karya yang dihasilkan oleh pengrajin itu one of a kind, karena tiap tangan punya tekanan yang berbeda. Setiap bordir lebih unik dan berdimensi. Memang proses pembuatannya lebih lambat dari bordir mesin, tapi di situlah keiistimewaannya.
The Luxury Reports: Selain itu, apa lagi yang Glashka lakukan untuk mendukung sustainable fashion?
Indira Hapsari: Kami nggak membuat sale untuk produk-produk last season atau stok lama, tapi kami upscycle. Misalnya ada yang terlalu polos, kami tambahkan sesuatu yang lebih menarik di bordirannya, dan sebagainya. Ternyata, banyak pelanggan yang willing to buy.
Ega Augustia: Ternyata, sudah banyak yang menghargai proses tersebut. Mereka tahu kalau upcycle nggak mudah, ada effort tambahan. Senang banget, perlahan-lahan market fashion di Indonesia sudah lebih memahami value sebuah produk, bukan cuma sekadar membandingkan harga mahal dan murah saja.
The Luxury Reports: Untuk koleksi sepatu kalian, boleh diceritakan? Kenapa memilih tali rami untuk materialnya?
Ega Augustia: Entah kenapa aku memang selalu suka dengan bahan-bahan natural, seperti linen dan rami. Jadi, ide desain yang muncul juga selalu dari bahan-bahan itu. Nah, rami kalau dikombinasikan dengan bordir ini jadi sesuatu yang unik. Kami berkolaborasi dengan pengrajin sepatu UMKM dari Bogor.
Indira Hapsari: Pinginnya nanti bisa ada gerai Glashka di Bali, karena koleksi sepatu kami pas sekali dengan pasar di sana. Ringan, santai dan chic.
The Luxury Reports: Gimana tipsnya supaya sepatu rami ini lebih tahan lama? Karena biasanya bahan espadrilles ini bisa mudah rusak serat-seratnya.
Ega Augustia: Kami pakai rami sebagai bahan utamanya, tapi untuk bagian tali pengikatnya, kami pakai material yang lebih kuat. Sepatu rami ini memang bukan buat daily atau sepatu tempur banget. Jadi untuk acara-acara santai sesekali. Kami juga memberikan edukasi ke customer untuk cara perawatannya, misalnya nggak boleh terkena air, dan sebagainya.
The Luxury Reports: Dengan craftmanship tinggi dan price point seperti sekarang ini, gimana pendapat kalian tentang customer yang masih merasa bahwa brand lokal itu semestinya murah?
Ega Augustia: Kalau untuk price point, karena sudah tahun keenam, alhamdulillah kami nggak khawatir lagi, karena sudah banyak yang mengapresiasi value dari sebuah produk. Apalagi, sekarang Glashka nggak hanya pakai bordir, tapi juga banyak payetnya, yang artinya prosesnya itu lebih rumit lagi. Ternyata ada kok pasarnya, alhamdulillah banyak yang menerima kami dengan baik. Tapi, sebelum sampai di titik ini, tentu susah sekali di awal-awal kehadiran kami.
Indira Hapsari: Iya, kalau untuk segi pasar, kami senang sekali, alhamdulillah antusiasmenya cukup baik, pasarnya sudah terbentuk. Di event The BFF Festival 2025 bulan Agustus lalu, para customer yang datang dan berbelanja itu juga yang memang sudah mengenal kami, sudah tahu kalau bordirnya handmade, dan lain-lain. Sambutan untuk event peluncurkan koleksi “Senyawa” kami di Loma juga sangat baik.
The Luxury Reports: Jadi, challenge terbesar kalian sebagai brand lokal, terletak di mana saja?
Ega Augustia: Challenge-nya lebih kepada soal value sebuah brand. Semoga para brand lokal di Indonesia bisa terus berkembang, bertumbuh, dan saling mendukung satu sama lain. Masing-masing punya ciri khas dan value, yang akhirnya juga menghargai ciri khas dan value brand lain. Nggak selalu terlihat seragam atau saling meniru, supaya industrinya tumbuh sehat, dan para pelanggan juga punya banyak pilihan.
Indira Hapsari: Menurut aku, brand lokal, walaupun masih berupa bisnis kecil, harus punya creative director tersendiri, supaya punya arahan yang baik, punya signature style masing-masing, lebih tahu brand-nya akan dibawa ke mana.
The Luxury Reports: Terakhir, apa saja rencana untuk Glashka dalam waktu dekat ini?
Ega Augustia: Kami akan collab dengan Sarinah, dan akan hadir di Jakarta Fashion Week bulan Oktober nanti. Kami juga akan buat koleksi Lebaran dan hadir di Kuala Lumpur. Jadi, kami kenal dengan seorang jastiper dari Malaysia, yang selalu belanja di Glashka Studio di Cikajang. Padahal di website kami juga ada, tapi mereka senang belanja offline. Pas banget, ternyata ada concept store yang akan buka di Kuala Lumpur dan kami diajak untuk menjadi salah satu brand yang mengisi di sana. Jadi, jastiper yang sering belanja ke Jakarta ini, nggak perlu jauh-jauh deh. Para hijaber atau pengguna modest fashion di Malaysia bisa belanja langsung dan pegang produknya di sana.
Indira Hapsari: Glashka juga akan membuat koleksi baru memakai wastra Nusantara, lho. Ini exciting banget, karena pertama kalinya Glashka menggunakan bahan tenun. Pantau terus ya!
Images: Courtesy of Glashka












