Sustainable Fashion: Saatnya Beralih dari “Nice to Have” ke “Must-Have”

Sustainability dalam industri fashion bukan lagi sekadar pilihan, tapi sudah menjadi keharusan karena semakin banyak orang peduli pada dampak di balik setiap produk.

Membicarakan tentang fashion tidak melulu tentang trending items maupun runway looks dari brand-brand ternama yang selalu menjadi pusat perhatian setiap tahunnya. Sebagai konsumen, sudah sepatutnya kita juga memahami tentang dampak dari industri yang masih terus menjadi salah satu penyumbang terbesar limbah di bumi ini.

Secara global, industri fashion menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun yang secara signifikan berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan diperkirakan akan meningkat menjadi 100 juta ton lebih pada tahun 2030. Itulah kenapa, kini istilah sustainability semakin dekat dengan para pecinta fashion yang mulai sadar bahwa industri ini membutuhkan perubahan darurat.

Limbah daru industri fashion. Sumber: Greenpeace

Memang, generasi muda kini sudah mulai untuk menganut mindful shopping, di mana sebanyak 44% dari mereka peduli dengan bagaimana sebuah brand dapat berdampak pada manusia dan bumi, sehingga prinsip sebuah brand cukup mempengaruhi keputusan mereka dalam berbelanja. Banyak dari mereka yang mencari tahu terlebih dahulu tentang kode etik yang dipegang sebuah brand sebelum benar-benar membeli produknya, apalagi merekomendasikan brand tersebut ke orang-orang sekitarnya.

Saat ini, semakin banyak brand lokal yang mulai mengadopsi prinsip sustainability. Meskipun pendekatan seperti mengedepankan produk handmade, menggunakan bahan natural, dan memproduksi dalam jumlah terbatas masih tergolong baby steps, upaya ini tetap patut diapresiasi.

Menurut Melodya Lukita, dosen Fashion Business di LaSalle College, ex-Fashion Editor Dew Magazine, sekaligus Co-Founder Studio Else yang fokus pada sustainable living, masih sangat sedikit brand yang benar-benar menerapkan sustainability secara menyeluruh. Mulai dari rantai pasok, bahan baku, hingga tahap akhir siklus produk, integrasi yang utuh belum banyak dilakukan.

Baca juga: Bahaya White Label bagi Industri Fashion Lokal

Padahal, di era ini sustainability seharusnya bukan lagi sesuatu yang “nice to have” tapi sudah menjadi “must-have.”

“Konsumen semakin kritis, apalagi generasi muda. Mereka mencari brand yang punya nilai dan impact nyata. Kalau sebuah brand mengabaikan sustainability, lama-lama [brand] akan kalah relevan. Selain itu, dari sisi bisnis, brand yang concern ke sustainability biasanya bisa bangun trust dan loyalitas lebih kuat kalau mereka juga transparan dalam setiap prosesnya,” jelas Melodya terkait pentingnya sebuah brand untuk menganut prinsip sustainability.

Tantangan Brand dalam Mengaplikasikan Sustainability

Meskipun sustainability kini diharapkan menjadi suatu hal yang “must-have” dan bukan lagi “nice to have”, tantangan terbesar yang pasti dialami brand adalah biaya produksi. Bahan yang ramah lingkungan seringkali terbatas sehingga harganya pun lebih mahal. Menurut Melodya, tantangan bagi brand dalam perihal sustainability juga ada di R&D (Research & Development) karena prosesnya bisa memakan waktu yang lebih lama dibandingkan brand yang hanya fokus pada produksi cepat.

Melodya juga menekankan bahwa sustainability adalah spektrum luas. Bukan hanya soal material yang digunakan, tetapi juga mencakup kemasan, sistem transportasi, upah pekerja, serta bagaimana nasib produk setelah digunakan. Apakah bisa didaur ulang, di-upcycle, atau kembali ke sistem sirkular?

Hal penting lainnya yang perlu dipahami juga bahwa brand yang sustainable kerap kali mungkin saja tidak akan terlihat “trendy” seperti yang pasar biasa cari. Maka dari itu, originalitas dan kreativitas juga harus dijadikan penentu esensi sebuah brand, sehingga tidak sekadar bahan yang sustainable, tapi keseluruhan value dan cerita yang dibangun.

Baca juga: Permasalahan Dupe dan Alternatif Brand Lokal yang Punya Value Lebih

Perlu diingat juga bahwa sustainability tidak hanya menjadi tanggung jawab brand, tetapi juga bagian dari pola pikir yang seharusnya dimiliki masyarakat. Sebagai konsumen, kita perlu lebih kritis dan selektif saat berbelanja. Langkah sederhana seperti memeriksa jenis material pada label pakaian bisa menjadi awal dari gaya hidup yang lebih sustainable.

Brand yang benar-benar serius dalam prinsipnya biasanya akan sangat transparan terkait proses dan material yang digunakan. Kalau hanya menggunakan istilah “eco-friendly” tanpa bukti yang detail terkait proses produksi dan material yang digunakan, kemungkinan besar itu adalah greenwashing. Fashion brand yang menggunakan bahan sintetis seperti polyester virgin yang diproduksi dari nol tanpa recycle, atau material dengan finishing chemical yang berat sudah pasti 100% tidak sustainable.

Padahal, sekarang sudah banyak pilihan alternatif yang bisa digunakan (dan memang sudah digunakan oleh beberapa brand) seperti bambu, lyocell, organic cotton, bahkan beberapa jenis recycled polyester. Jadi, sering-seringlah untuk mengecek label pakaian dan memastikan bahan apa yang digunakan untuk menghindari brand yang hanya greenwashing apalagi yang tidak sustainable sama sekali.

Material yang terbuat dari serat bambu. Sumber: Ethical Consumer

Kalau industri tidak berubah, baik dari sisi produsen maupun konsumen, konsekuensinya akan terus tereskalasi menjadi jauh lebih serius daripada yang sekarang, dengan banyaknya limbah tekstil yang menumpuk, air dan tanah yang semakin tercemar. Bahkan, brand yang hanya mengejar tren tanpa arah pun akan kehilangan relevansi-nya jika kondisi industri semakin tidak sehat.

Masa depan fashion bukan lagi soal siapa yang paling cepat mengikuti tren, tapi siapa yang bisa menawarkan originalitas, kreativitas, dan sistem yang bertanggung jawab dari bahan, produksi, distribusi, hingga end-of life produk.

Sebagai penutup, Melodya menambahkan bahwa sustainability ke depannya akan menjadi filter utama, di mana brand yang gagal beradaptasi bisa saja tetap eksis, tapi dengan waktu yang sebentar. Industri fashion perlu berevolusi menuju model yang lebih sirkular dan transparan. Jika tidak, fashion hanya akan menjadi simbol dari sesuatu yang cepat dan bisa dibuang, bukan sebagai medium ekspresi yang bermakna dan berkelanjutan.

“Changes? They take a village, not a country. Just a village,” tutup Melodya dalam kesempatan wawancara The Luxury Reports bersamanya.

Bagaimana pendapat kamu? Apa yang sudah kamu lakukan untuk lebih bertanggung jawab dengan apa yang kamu pakai?

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *