Model bisnis white label merupakan cara yang mudah dan murah bagi sebuah brand untuk mendapatkan produknya, namun dengan sederet kerugian lingkungan dan perekonomian, apakah worth it?
Kita tahu bahwa kini industri fashion di di Indonesia sedang berkembang pesat. Banyak brand baru yang bermunculan hingga meningkatnya minat masyarakat terutama generasi muda terhadap produk lokal. Namun, di balik branding yang menarik dengan strategi marketing yang kreatif, ternyata masih terselip brand-brand yang menggunakan model bisnis white label.
Apa itu white label? Istilah ini merujuk pada model bisnis yang membeli produk jadi dalam jumlah banyak dari negara produsen besar seperti Tiongkok yang mengimpornya dengan harga murah dan brand hanya tinggal menempelkan logo-nya sendiri. Praktis? Tentu saja. Modal sedikit? Sudah pasti. Tapi model ini memiliki berbagai dampak negatif, tidak hanya untuk image sebuah brand, namun untuk perekonomian dan lingkungan.
Dampak Lingkungan dan Etika Produksi
Pada sisi sustainability, model bisnis white label sudah pasti memiliki kontribusi yang besar dalam menghasilkan limbah tekstil. Melansir dari Business Waste, dunia menghasilkan 92 juta ton limbah tekstil. Jika tidak ada perubahan besar dalam cara memproduksi, menggunakan, dan membuang pakaian, diperkirakan pada tahun 2030 jumlah limbah tekstil global akan meningkat menjadi 134 juta ton.

Demi menekan harga satuannya, produsen-produsen pakaian langsung jadi ini tentunya tidak akan memikirkan efek samping dari overproduksi yang dilakukan. Tidak sampai di sini saja, pakaian-pakaian dengan stok menumpuk juga apabila tidak terjual habis bisa jadi akan dijual dengan diskon besar-besaran. Yang lebih buruknya lagi, dibuang atau dibakar.

Material yang digunakan? Sudah pasti material yang tidak memiliki kualitas tinggi dan tidak mudah terurai oleh alam. Bahkan praktik kerja dari produksi massal seperti ini cenderung memiliki jam kerja dan upah yang tidak manusiawi.
Melemahkan Ekonomi Kreatif Lokal
Jika kita melihatnya dari sisi ekonomi, brand lokal yang menggunakan model bisnis white label tentu saja melemahkan potensi industri kreatif lokal yang benar-benar memberdayakan tenaga kerja lokal. Hal ini dikarenakan daya saing dalam bentuk harga sudah pasti brand white label berada jauh di bahwa brand-brand lokal yang melakukan produksi dalam negeri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berdampak pada masyarakat sekitar, karena penciptaan lapangan kerja di sektor produksi dan distribusi lokal tidak dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, jika brand bekerja sama langsung dengan produsen kecil, konveksi lokal, atau pengrajin daerah, dampak ekonominya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Model bisnis white label yang terpusat pada keuntungan cepat justru memberikan dampak ekonomi yang besar terhadap negara produsen.

Memang, membangun sebuah brand lokal dengan identity dan proses yang benar-bernar orisinil sekaligus melibatkan sumber daya manusia lokal bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi apabila kita membicarakan tentang cost-nya. Proses membangun sebuah brand fashion membutuhkan waktu, modal yang besar, akses ke mitra produksi yang tepat dan cocok, serta pemahaman mendalam tentang desain yang ingin diangkat.
Baca juga: Prancis Merancang Regulasi Ketat untuk Fast Fashion: Apa Dampaknya?
Karena hal tersebutlah, banyak brand-brand baru yang memilih model bisnis white label sebagai langkah awal untuk menjajaki industrinya. Dalam konteks tertentu, strategi bisnis white label masih bisa dimaklumi apabila digunakan sebagai cara untuk mengenali pasar, membangun basis konsumen, dan mengumpulkan modal yang cukup untuk beralih ke proses produksi yang lebih mandiri dan lebih sustainable.

Meskipun demikian, bukan berarti menjadi hal yang bagus apabila white label ini dijadikan strategi bisnis jangka panjang tanpa adanya rencana untuk berkembang. Ketergantungan terhadap jenis bisnis ini dapat membatasi pertumbuh brand karena hanya akan menerima barang jadi saja, merusak identitas brand dengan tidak adanya konsistensi dalam desain, dan melemahkan kontribusinya terhadap industri lokal.
Maka dari itu, brand yang memulai dari white label sebaiknya menjadikannya sebagai bentuk fase proses belajar dan transisi. Dengan komitmen untuk terus berkembang, berinvestasi pada desain dan produksi sendiri, serta memberdayakan SDM lokal, maka brand bisa tumbuh lebih sustainable dan memiliki nilai yang lebih kuat di mata konsumen.

Meskipun demikian, bukan berarti bisnis white model ini dianjurkan untuk dilakukan, ya. Dengan banyaknya kerugian yang dialami oleh lingkungan, SDM, hingga perekonomian negara, bisnis model ini seharusnya tidak dijadikan acuan utama dalam berbisnis.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki peran penting untuk menyediakan regulasi dan kemudahan akses agar brand lokal bisa tumbuh secara organik dan lebih diminati oleh masyarakat. Dengan dukungan bersama, industri fashion lokal Indonesia dapat berkembang lebih kuat dan berdampak positif bagi ekonomi dan masyarakat.
Bagaimana menurut kamu?
Images: Courtesy of Pexels