Bagaimana Pakaian Dalam Wanita Bertransformasi Menjadi Pakaian Mewah?

Siapa sangka, kini sehelai pakaian yang tersembunyi di balik baju juga turut menjadi status dan simbol kemewahan zaman modern?

Minggu ini, saya baru saja menyelesaikan novel Entrok karya Okky Madasari setelah hampir setahun mengalami reading slump. Alih-alih ingin membahas tentang ketimpangan sosial dan ekonomi sekaligus tragedi politik yang terjadi pada alur cerita yang dihadirkan oleh karya tulisan tersebut, justru saya lebih tertarik tentang bagaimana novel ini diawali dari sehelai pakaian dalam wanita yang pada saat itu merupakan sebuah bentuk kemewahan yang langka dan jauh dari jangkauan penggunanya, yaitu perempuan.

Bagi yang belum familiar dengan kata entrok yang dijadikan judul oleh novel ini, entrok itu sendiri berasal dari bahasa Jawa entroki yang merupakan kutang, dalaman, atau bra. Dalam novel Okky Madasari, perempuan dari latar belakang kemiskinan pada tahun 50-an tidak kenal dengan bra dan hanya menggunakan kain untuk menutupi bagian dada, bahkan umumnya pada masa itu saat di rumah mereka cenderung tidak menutupi dadanya sama sekali.

Entrok pun menjadi suatu bentuk pakaian yang hanya para perempuan mampu saja yang dapat mengenakannya, dan pada masa itu perempuan yang bekerja tidak diupah dengan uang melainkan bahan masakan. Sudahkah terlintas dalam pikiranmu seberapa mewahnya pakaian ini untuk dimiliki pada masa itu?

Kita semua tahu bahwa kemewahan sering diukur dari siapa yang bisa atau tidak bisa mengakses suatu barang; dalam konteks itu, entrok yang sulit dijangkau menjadi simbol sosial sekaligus penanda status di masanya. Meskipun novel Okky Madasari adalah karya fiksi (dengan goresan faktual sejarah), alih-alih menyamakan konteks lokal ini dengan tren global, Entrok justru menjadi pengingat jelas bagaimana pakaian dalam yang dulu tabu kini telah bertransformasi menjadi simbol kemewahan yang dirayakan secara terbuka, dari runway hingga branding internasional. Perubahan ini menegaskan bagaimana sesuatu yang awalnya bersifat privat kini dapat menjadi medium ekspresi, identitas, dan status sosial.

Kiri: Rebecca Romijn-Stamos mengenakan lingerie berenda di runway Victoria’s Secret tahun 1997. Kanan: Gisele Bündchen dengan sepasang bra dan thong berserat emas dan aksesori ikonis berwarna senada di runway Victoria’s Secret pada tahun 2000. Credit: Getty Images

Meskipun jenis pakaian ini umumnya tidak dikenakan di ruang publik, terutama oleh mereka yang bukan berasal dari kalangan selebriti, banyak perempuan tetap rela mengeluarkan biaya lebih untuk membeli lingerie yang tergolong mewah. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Menurut sebuah jurnal dari Louisiana State University, penelitian yang dilakukan oleh Rachel Wood (2016) menunjukkan bahwa mengenakan lingerie dengan harga di atas rata-rata dapat meningkatkan rasa percaya diri perempuan terhadap tubuh mereka. Hal ini pun berpengaruh pada cara mereka memandang penampilan diri maupun dalam performa seksual mereka.

Di dalam jurnal yang sama, penelitian lain juga menemukan bahwa lingerie yang lebih mahal dan mewah justru memiliki tingkat penggunaan ulang yang rendah (Hume dan Mills, 2013). Banyak perempuan percaya bahwa lingerie spesial harus digunakan secara terbatas agar tidak kehilangan daya tariknya, terutama jika lingerie tersebut ditujukan untuk momen-momen tertentu. Penggunaan yang terlalu sering dianggap dapat menurunkan nilai dan efek emosional yang dirasakan ketika mengenakannya (Jantzen, Per Østergaard et al., 2006). Hal ini menunjukkan bahwa sifat lingerie memang berbeda dari kategori pakaian lainnya, karena penggunaannya kerap memiliki makna dan tujuan yang lebih personal.

Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa lingerie atau pakaian dalam dengan nilai estetika yang tinggi, baik dari segi desain, aksen, maupun warna, dapat memberikan dampak psikologis yang positif. Dengan penggunaannya yang bersifat spesial dan sering kali dibatasi, banyak perempuan akhirnya memberikan perlakuan yang sama pada lingerie mahal seperti mereka memperlakukan tas atau sepatu mewah, meskipun pada dasarnya ini hanyalah pakaian dalam. Elemen-elemen inilah yang membuat banyak perempuan merasa lebih nyaman, lebih berdaya, dan pada akhirnya jauh lebih percaya diri ketika mengenakan pakaian dalam atau lingerie yang masuk ke kategori mewah.

Pada awalnya, perempuan di berbagai belahan dunia cenderung berdandan dengan pakaian yang jauh lebih konservatif dibandingkan dengan gaya pada abad ke-21. Seiring berkembangnya kondisi ekonomi dan politik yang semakin stabil dan progresif, masyarakat menjadi lebih leluasa dalam mengekspresikan diri. Dampaknya, perempuan pun semakin berani dalam mengeksplorasi pilihan busana yang sebelumnya dianggap tabu, baik melalui pemilihan siluet yang lebih terbuka, permainan tekstur, maupun adopsi elemen fashion yang dulu hanya ditemukan di ranah privat.

Pakaian dalam, seperti bra, merupakan sehelai pakaian yang tersembunyi, intim, dan tidak secara umum dipamerkan oleh penggunanya. Jangankan untuk dipamerkan ke khalayak, pakaian dalam, terutama bagi perempuan, justru dibuat sekadar untuk menopang dada dan menutupi area privat agar perempuan dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa merasa kesakitan.

Baca juga: Perjalanan Freda Permana dalam Membangun Raquel Lingerie

Namun seiring waktu, bukan hanya fungsional, kini pakaian dalam atau yang biasa disebut dengan nama ‘lingerie‘ justru menjadi simbol daya tarik, identitas, juga status sosial seorang perempuan. Bahkan, bukan lagi menjadi pakaian dalam yang berada di ‘dalam,’ justru sekarang pakaian sejenis ini digunakan saat parade, konser, hingga red carpet, juga oleh selebriti yang dianggap sebagai fashion icon.

Kiri: Destiny’s Child mengenakan bra kulit yang dihiasi dengan potongan-potongan renda hitam senada untuk acara showcase-nya tahun 2001. Kanan: Lady Gaga tampil di Lollapalooza 2007 dengan bra berhias potongan kaca seperti bola disko dan celana dalam hitam. Credit: Getty Images.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan estetika, tapi juga menjadi tanda pergeseran nilai sosial, yang memberi ruang lebih besar bagi individualitas perempuan dalam menentukan cara mereka ingin tampil di ruang publik. Adanya transformasi ini kemudian menghadirkan perubahan besar dalam industri fashion itu sendiri.

Alhasil, penggunaan pakaian dalam sebagai estetika itu menjadi lumrah. Bahkan, pakaian ini diperlakukan layaknya artikel fashion pada umumnya; memiliki varian harga yang sangat beragam, dari produk massal yang mudah dijangkau hingga edisi luxury yang diposisikan sebagai simbol status.

Semakin dikenalnya brand-brand ternama seperti Victoria’s Secret, La Perla, La Senza, Agent Provocateur, dan yang lainnya ikut menunjukkan lingerie sebagai komoditas fashion yang bernilai tinggi yang bukan hanya sekadar untuk kebutuhan dasar. Dengan estetika dan filosofi desain yang berbeda-beda, hal ini memperluas persepsi publik mengenai pakaian dalam. Dari pakaian yang bersifat kebutuhan, menjadi produk yang berkaitan dengan kemewahan, sensualitas, dan gaya hidup tertentu, yang tidak semua orang bisa mengaksesnya.

Memang benar bahwa hampir semua aspek kehidupan memiliki sisi kemewahannya masing-masing. Mulai dari pakaian, sepatu, hingga makanan, semuanya memiliki kelas eksklusif yang tidak selalu bisa diakses oleh setiap orang. Namun, yang membuat topik ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa pakaian dalam, sesuatu yang sifatnya begitu privat, bahkan dianggap tabu dan tidak diperlihatkan kepada sembarang orang, juga memiliki hierarki kemewahannya sendiri.

Justru karena sifatnya yang tersembunyi dan personal, kemewahan pada lingerie atau underwear menjadi sebuah pengalaman yang sangat intim untuk dirasakan, bukan untuk dilihat orang lain. Lingerie yang baik akan memberikan rasa percaya diri dan penghargaan diri pemakainya.

Melalui fenomena ini, saya melihat bahwa pergeseran zaman, nilai sosial, dan ekonomi yang kian progresif memberikan perempuan kebebasan untuk benar-benar memilih. Mulai dari apa yang mereka ingin kenakan, seberapa mahal sesuatu yang mereka ingin miliki di lemari, bahkan jenis-jenis barang apa saja yang membuat hati mereka berbunga. Pada akhirnya, kebahagiaan dan kepuasan batin seseorang memang sesuatu yang sangat personal, dan memiliki nilai tukar yang sebanding.

Images: Courtesy of Getty Images

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *