Axil Mini Bag dari Peggy Hartanto ini memiliki ukuran yang kecil, tidak memuat banyak barang tapi menjadi pelengkap penampilan yang manis.
Menjadi seseorang yang kerap berkelana membawa banyak barang, tentu bimbang bila harus beralih menggunakan tas kecil yang melarangku untuk membawa barang-barang yang terasa esensial. Tapi, tas dari Peggy Hartanto yang satu ini menjadi penawar sakit atas barang-barang yang kutinggal di rumah.
Menurutku, membeli tas adalah sebuah komitmen. Mengeluarkan sejumlah uang (yang tentunya tidak sedikit) memang sepantasnya ditukar dengan sesuatu yang dapat memeberikan kebahagiaan dan kepuasan batin. Tidak pernah berniat untuk membelinya di hari itu, langkah yang aku ambil untuk membawa si gemas ini pulang dapat kukatakan cukup berani.


Belakangan waktu ini, aku memang memiliki keinginan besar untuk membeli suatu tas yang versatile, baik untuk kerja juga untuk sekadar ke tempat bermain-main dengan teman. Tapi, apa daya naluri perempuan memang seringnya tidak bisa tahan ketika melihat suatu barang yang dirasa cantik dan unik, jadi aku akhirnya mengalahkan komitmenku sendiri. Aku membeli tas ini saat hadir di acara Masari yang berlokasi di ASHTA District 8, Jakarta.
Bagi para pecinta local luxury, kita semua tahu kalau tas Peggy Hartanto dapat digolongkan ke tas langka, karena keterbatasannya di berbagai stockist maupun web resminya. Namun memang mungkin yang namanya jodoh, tas Axil Mini Bag berwarna hitam-putih menjadi hiburan mata di tengah keriuhan undangan yang berbelanja. Meskipun masih maju mundur karena tidak ada niat sedikitpun untuk membeli apapun di hari itu, aku memutuskan untuk membawanya pulang dengan perasaan setengah senang, setengah bimbang.
Baca juga: The Art of Letting Go by Converting into Small Bags
Seperti yang kukatakan sebelumnya di awal, aku adalah perempuan yang termasuk ke dalam golongan mereka yang selalu membawa banyak barang, sehingga preferensi tasku lebih condong ke tas-tas besar. Makanya, membawa pulang tas kecil dari Peggy Hartanto dengan harga yang tidak murah tentu saja membawa kebimbangan hati. Saat jalan pulang, hatiku berbisik, “Worth it atau tidak, ya?“


Tas yang berukuran 19×7,5cm ini sudah pasti tidak bisa menopang berbagai pilihan warna lipstik untuk menyesuaikan mood harian, juga tidak bisa membawa parfum full size ukuran 30 maupun 50 ml untuk terus segar dari pagi hingga malam. Paling hanya cardholder, charger, airpods, dan handphone (yang permukaaannya sedikit terlihat ke atas), yang bisa dia tawarkan untukku.
Tidak lama dari hari transaksiku membawa pulang tas ini, aku berpelesir ke Jawa Tengah untuk beberapa hari. Dengan itinerary yang menumpuk setiap harinya, tentu saja membawa medium atau large bags semestinya menjadi pilihan utama. Namun, dengan perasaan berat hati dan tidak mau rugi, aku memasukkan Peggy Hartanto Axil Mini Bag-ku ke dalam koper.
Sesampainya di sana, aku berjalan-jalan dari pagi hingga malam dengan tas tersebut. Memang, menyulitkan diri ketika harus rela meninggalkan parfum favorit di hotel, juga airpods untuk penyegaran pikiran saat commute dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tapi hidup itu adalah pilihan, ingin bawa banyak kebutuhan, atau ingin tampil cantik dan eye-catchy dengan tas baru. Dan tentu saja aku memilih pilihan yang kedua!


Ukurannya mini dan warna hitam-putihnya terlihat senada dengan kebanyakan outfit-ku yang berwarna hitam. Tentu saja semakin cantik karena dihiasi dengan aksen ikonis Peggy Hartanto yang berbentuk hati terbalik. Bahan kulit yang digunakan untuk tas ini datang dari Cowhide Nappa Leather yang dibuat di Indonesia. Bisa dijinjing dengan strap pendeknya, bisa pula jadi sling bag untuk memudahkan mobilitas sekaligus tampil lebih casual.
Satu hal yang membuatku tenang dari kebimbangan akan terbatasnya barang yang aku bawa terletak pada looks keseluruhan dari tas Peggy Hartanto ini, yang entah kenapa selalu cocok dipakai dengan berbagai pakaian. Mungkin pemilihan warna yang monochrome juga menjadi poin pendukungnya. Namun, saat di Jogja dan Surakarta saat aku mengenakan pakaian yang casual dengan celana pendek maupun kebaya dan kain batik, tas ini selalu dapat mengelevasi keseluruhan penampilan.


Dengan harga yang dibanderol Rp2.818.000 di Masari, tas ini terasa seperti best purchase penutup 2025 yang manis. Tidak hanya menjadi pelengkap penampilan, tas mungil ini juga membuatku belajar bahwa rasa aman tidak selalu datang dari banyaknya barang yang kubawa, melainkan dari keyakinan bahwa aku mampu menghadapi hari dengan apa yang sekadar ada di genggaman.
Images: Courtesy of The Luxury Reports

