Tahun 2025 lalu, warna pink dan hijau kerap menjadi warna yang digaungkan dan ramai digunakan untuk merepresentasikan banyak hal, mulai dari pop culture, fashion, hingga gerakan kolektif masyarakat.
Melihat dari segala sudut medial sosial, layar kaca, hingga visual pop culture, terdapat satu benang merah yang kerap muncul di tahun 2025 ini, yaitu presensi warna pink dan hijau yang muncul di mana-mana. Kombinasi warna yang dulu terasa “bertabrakan” kini justru terlihat relevan, segar, dan representatif pada beberapa momen di tahun ini. Bukan merupakan sebuah kebetulan, warna pink dan hijau yang hadir tahun ini tidak hanya sebagai tren fashion semata, tetapi sebagai bahasa visual yang merangkum emosi, harapan, dan sikap generasi masa kini.

Jika dilihat dalam pop culture global, palet warna ini semakin diperkuat lewat kehadiran film musikal Wicked. Dalam film ini, pink dan hijau bukan sekadar pilihan estetika visual, melainkan simbol yang membentuk karakter dan konflik sejak awal cerita. Hijau merepresentasikan sosok yang dianggap berbeda, kerap disalahpahami, dan tidak selalu diterima. Sementara itu, pink hadir sebagai citra yang cerah, populer, dan ceria, mewakili standar yang lebih mudah diterima secara sosial.
Ketika dua warna ini berdampingan, muncul narasi tentang kontras, identitas, dan proses penerimaan yang tidak hitam putih. Warna bekerja sebagai bahasa emosional yang membantu penonton memahami relasi kuasa, perbedaan, dan pilihan tanpa perlu banyak dialog, sekaligus memperkuat relevansi warna pink dan hijau.
Palet warna serupa juga hadir dalam Emily in Paris pada musim kelima yang dirilis Desember ini. Pada episode pembukanya, penonton diperlihatkan suasana ruang kerja dengan dominasi warna hijau yang terstruktur, sementara aksen pink dikenakan oleh Sylvie Grateau sebagai figur dengan otoritas tinggi. Di sini, warna kembali bekerja sebagai bahasa visual: hijau menjadi fondasi yang stabil, sementara pink hadir sebagai pernyataan sikap dan kepercayaan diri.

Menariknya, ketertarikan terhadap kombinasi ini juga memiliki dasar psikologis. Dalam studi psikologi warna, hijau dikenal sebagai warna yang diasosiasikan dengan alam, pemulihan, dan keseimbangan emosional. Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Color Institute, menjelaskan bahwa hijau memberikan rasa aman dan ketenangan yang menstabilkan kondisi emosional. Sementara itu, warna pink berkaitan dengan empati, kehangatan, dan afeksi.
Dalam The Beginner’s Guide to Colour Psychology, Angela Wright menyebut bahwa pink mampu melunakkan ketegangan dan menciptakan rasa keterhubungan. Ketika keduanya dipadukan, terbentuk apa yang disebut sebagai beautiful tension, keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan, antara rasa aman dan keberanian.


Pendekatan ini juga tercermin kuat dalam dunia fashion kontemporer. Salah satu contoh paling terasa adalah kolaborasi Salomon x Sandy Liang. Melalui siluet sepatu yang fungsional namun playful, kolaborasi ini memadukan hijau yang identik dengan performa dan alam dengan aksen pink yang lembut dan ekspresif. Perpaduan ini menciptakan dialog antara dunia teknis dan emosional, antara fungsi dan perasaan. Pink tidak lagi dianggap rapuh, dan hijau tidak lagi sekadar warna menyegarkan, keduanya hadir sebagai bahasa gaya yang setara dan saling menguatkan.

Ketika warna mulai bekerja sebagai simbol di layar kaca dan pop culture global, resonansinya pun terasa hingga ke ruang publik yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, pada pertengahan tahun 2025 lalu, pink dan hijau muncul pada ruang publik secara organik sebelum merembet ke ranah fashion.
Warna-warni ini hadir melalui ekspresi kolektif, brave pink, warna yang dikenakan oleh sosok ibu yang hadir berani bersuara dan hero green, warna yang dimaknai penghormatan pada figur pekerja jalanan, sehingga hijau ini menjadi representasi pengorbanan, dan semangat untuk bertahan di tengah situasi ketidak adilan ini. Warna ini diterjemahkan menjadi alat komunikas yang paling cepat dipahami. Tanpa perlu banyak kata, pink dan hijau menyampaikan pesan tentang empat, solidaritas, dan optimisme di tengah situasi yang tidak stabil.
Di awal, pink dan hijau mungkin terasa bertabrakan. Namun di 2025, justru di situlah kekuatannya. Dua warna yang berbeda ini belajar hadir berdampingan, saling menyesuaikan, dan perlahan diterima sebagai satu kesatuan visual. Kontras yang dulu terasa asing kini berubah menjadi senada, menawarkan cara baru dalam membaca perbedaan, bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi sebagai ruang untuk saling melengkapi.
Images: Courtesy of Pantone, Sandy Liang, Netflix, Universal