Menelisik Peran Creative Director dalam Sebuah Brand Fashion

Tidak hanya mendesain sebuah koleksi, seorang creative director juga memiliki peran dalam menyematkan sekaligus menyampaikan pesan sebuah brand kepada dunia.

Setahun terakhir, industri fashion berada dalam kondisi yang nyaris tak pernah benar-benar tenang. Kursi creative director berpindah tangan dengan cepat, nama-nama besar bergeser dari satu rumah mode ke rumah mode lain, dan setiap pengumuman selalu disambut dengan reaksi publik yang riuh. Ada rasa penasaran, spekulasi, sekaligus kegelisahan yang mengiringinya.

Jonathan Anderson, yang selama ini lekat dengan Loewe, kini memegang Dior. Matthieu Blazy, sosok di balik era Bottega Veneta yang refined dan dewasa, duduk di CHANEL. Sementara Demna, yang bertahun-tahun membentuk wajah Balenciaga, kini dipercaya untuk memimpin Gucci. Perpindahan ini bukan sekadar rotasi jabatan, namun membuka satu pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa penting sebenarnya peran seorang creative director dalam sebuah brand fashion?

Seorang creative director tidak hanya merancang pakaian, mereka membawa DNA desain, sudut pandang, dan sistem nilai yang membentuk keseluruhan pesan brand. Mereka menentukan bukan hanya apa yang dikenakan, tetapi bagaimana sebuah rumah mode ingin dilihat, dirasakan, dan diingat. Di sinilah peran mereka menjadi krusial.

Baca juga: Ramainya Pergantian Creative Director Label Fashion: Apa yang Akan Berubah?

Jonathan Anderson, misalnya, dikenal dengan pendekatan desain yang berangkat dari craft, namun selalu dibingkai secara eksperimental. Di Loewe, siluet kerap terasa tidak konvensional. Pakaian hadir hampir seperti objek, dengan volume, tekstur, dan bentuk yang menantang fungsi konvensional sebuah busana. Anderson gemar mempertanyakan batas antara fashion dan seni, dan di Loewe, pendekatan ini menemukan rumahnya. Brand tersebut memberi ruang bagi eksperimen dan diskursus kreatif tanpa kehilangan kredibilitasnya.

Kiri: Loewe Spring Summer 2023 oleh Jonathan Anderson. Kanan: Koleksi debut Jonathan Anderson untuk Dior Menswear Spring Summer 2026

Namun, ketika masuk ke Dior, medan yang dihadapi Anderson berubah drastis. Dior adalah rumah mode dengan sejarah panjang, identik dengan struktur, heritage, dan feminitas klasik. Tantangannya bukan lagi seberapa jauh ia bisa bereksperimen, melainkan bagaimana menyaring ide-ide tersebut agar dapat hidup dalam bahasa Dior yang elegan dan berakar kuat pada sejarahnya. Di sini, peran creative director diuji bukan lewat gebrakan, tetapi lewat sensitivitas.

Dalam kasus Matthieu Blazy, ia menawarkan pendekatan yang berbeda. Di Bottega Veneta, ia membangun kemewahan yang tidak berteriak. Tidak bergantung pada logo, melainkan pada kualitas material, teknik, dan rasa. Busananya tampak sederhana di permukaan, namun menyimpan kompleksitas luar biasa pada detail, konstruksi, dan sentuhan tangan. Kemewahan hadir sebagai pengalaman, bukan pernyataan.

Kiri: Bottega Veneta Spring Summer 2025 oleh Matthieu Blazy . Kanan: Koleksi debut Matthieu Blazy untuk CHANEL Spring Summer 2026

Ketika Blazy masuk ke CHANEL, tantangannya tentu langsung terasa. CHANEL adalah rumah mode dengan kode visual yang sangat kuat. Tweed, mutiara, camellia, rantai tas, semuanya membawa sejarah panjang dan makna simbolik. Di sini, creative director tidak dituntut untuk menghapus identitas lama, melainkan memilih. Kode mana yang perlu dipertahankan, mana yang bisa diterjemahkan ulang, dan mana yang perlu diberi jarak agar brand tetap relevan tanpa kehilangan dirinya.

Sementara itu, Demna membangun Balenciaga melalui pendekatan yang konfrontatif. Siluet oversized, tailoring yang terasa “salah”, dan estetika streetwear yang sengaja kasar menjadi bahasa visualnya. Ia bermain dengan ironi, memperlakukan fashion mewah seperti barang sehari-hari, bahkan terkadang seperti sesuatu yang tidak nyaman untuk dilihat. Runway Balenciaga di bawah Demna sering terasa provokatif, namun justru di sanalah pesannya bekerja.

Kiri: Balenciaga Summer 2025 oleh Demna Gvasalia. Kanan: Koleksi debut Demna Gvasalia untuk Gucci 2025

Ketika Demna masuk ke Gucci, ekspektasinya menjadi jauh lebih kompleks. Gucci dikenal dengan dekorasi, sejarah, dan romantisisme Italia yang kental. Pertanyaannya bukan sekadar apakah Demna bisa “menjadi Gucci”, melainkan apakah pendekatan street-oriented dan ironis tersebut dapat diterjemahkan ke dalam rumah mode yang sangat ornamental tanpa menghilangkan esensinya.

Dari semua perpindahan ini, satu hal menjadi semakin jelas. Fungsi seorang creative director bukan sekadar membawa gaya lama ke rumah mode baru. Ia harus mampu memilih apa yang dipertahankan, apa yang diadaptasi, dan apa yang harus ditinggalkan. Proses ini membutuhkan waktu, kepekaan, dan pemahaman mendalam terhadap identitas brand.

Masalahnya, industri fashion hari ini menuntut segalanya berjalan cepat. Koleksi berganti, tren silih berganti, dan hasil instan sering kali diharapkan. Padahal, identitas sebuah brand tidak bisa dibangun dalam semalam dan dapat terbentuk melalui konsistensi, dialog, dan kesabaran.

Maka ketika kita melihat creative director berganti dengan cepat, yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar pergantian nama di kursi kreatif, melainkan pencarian arah. Sebuah upaya untuk menemukan kembali makna, relevansi, dan suara di tengah industri yang terus bergerak.

Images: Courtesy of Loewe, Dior, Bottega Veneta, CHANEL, Balenciaga, & Gucci

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *