Grace Wales Bonner ditunjuk sebagai Creative Director terbaru Hermès Menswear, membawa sentuhan inovatif dan budaya dalam koleksi pria ikonik tersebut.
Apa jadinya ketika line-up menswear dipegang oleh seorang wanita? Atau bagaimana Hermès bisa membuat artikel-artikel khusus pria semakin menarik dipandang, dibandingkan hanya fokus kepada produk tas saja? Jawaban dari barisan pertanyaan ini menjadi tasklist utama untuk Grace Wales Bonner yang ditunjuk Hermès sebagai creative director terbaru untuk menswear demi menggantikan Véronique Nichanian.
Véronique Nichanian sudah memimpin menswear Hermès bukan dalam jangka waktu sebentar. Total ia sudah berada di posisinya sekarang selama 37 tahun. Masa baktinya di sana jauh lebih tua dibandingkan umur Wales Bonner sendiri. Fakta ini membuat Hermès dan creative director terbarunya punya tugas cukup banyak untuk tahun depan.
Grace Wales Bonner memang baru mulai berkarya di Hermès pada tahun 2026 dengan penantian debut runway untuk koleksi SS26. Namun pemilihannya telah menciptakan beberapa fakta menarik. Wales Bonner merupakan black women designer pertama yang memimpin di Hermès, serta merupakan black women pertama dalam sejarah yang menjadi creative director di major fashion house.
Langkah monumental ini membuat Grace Wales Bonner berhasil mewujudkan mimpinya untuk bekerja di Hermès. Pada dasarnya, ia memang ingin sekali masuk ke fashion label berumur dua abad itu sejak jawabannya muncul pada tahun 2019. Saat itu ia ditanya tentang mimpinya di dunia fashion. Lalu salah satu jawabannya adalah Hermès. Jadi apa yang kita lihat sekarang ada a dream come true dari Wales Bonner.
Baca juga: Kontemporer dan Historis, Matthieu Blazy Mendebutkan Koleksinya untuk Chanel di PIFW 2026
Nama Grace Wales Bonner tidaklah asing untuk beberapa tahun terakhir. Ya, dia memang sempat menjadi LVMH Young Designer Prize 2016 untuk menswear designer. Kemudian masih banyak pencapaiannya yang tidak lepas dari urusan menswear. Namun semuanya menjadi sempurna saat kolaborasinya bersama adidas Originals pada tahun 2020 yang terhitung breakthrough pada masanya.
Saat itu, Wales Bonner berhasil membuat satu gelombang hype baru ketika adidas Samba yang ia ‘utak-atik’ menjadi salah satu sneakers paling dicari pada masanya. Salah satu alasannya karena ia berhasil membuat siluet klasik yang awalnya sangat sporty untuk diubah 180 derajat menjadi alas kaki paling stylish tanpa harus melupakan fungsinya. Belum lagi permainan warna dan desain yang cukup distingtif tanpa mempedulikan tren saat itu membuat kolaborasinya bersama adidas Originals menjadikan namanya semakin terbang tinggi di mass market.
Apakah karena kesuksesannya bersama adidas Originals membuat Hermès berniat menarik Wales Bonner untuk memimpin line-up menswear mereka? Bisa jadi. Desainer berdarah Jamaican-British itu punya tugas berat untuk dipenuhi; harus tetap menjadi heritage Hermès dalam skala yang besar tanpa membuatnya sellout, sekaligus memberikan impact besar kepada dunia fashion soal seberapa baik koleksi-koleksinya nanti demi membuat Hermès tak cuma soal tas semata. Jika eksklusivitas Hermès adalah suatu kewajiban, penunjukan Wales Bonner jelas bukan strategi yang keliru. Masa depan image mereka sudah berada di genggaman yang tepat. Kita tunggu tanggal mainnya.


