Bagaimana SKIMS mengubah fungsi pakaian dalam dari yang menyembunyikan menjadi tanda visual yang dibaca publik?
Setelah SKIMS membuat perempuan di seluruh dunia merasa bisa “lebih kencang” lewat shapewear, kini label milik Kim Kardashian itu tampaknya sedang mencoba arah sebaliknya: menambahkan, bukan menyembunyikan.
Belum lama ini, dunia fashion dikejutkan dari kabar peluncuran faux hair thong, pakaian dalam dengan rambut sintetis di bagian depan yang otomatis menjadi topik viral setelah kesuksesan nipple bra & pierced nipple bra beberapa bulan lalu. Tidak tanggung-tanggung, SKIMS menghadirkan produk ini dalam total 12 varian, dikemas dalam 2 tipe rambut (lurus/keriting), dan 4 pilihan warna rambut, dengan opsi 3 tone kulit sebagai basis agar dapat match dengan preferensi pengguna.

Setiap artikel SKIMS yang diluncurkan oleh Kim Kardashian seringkali membuat algoritma heran, “Apakah ini kampanye serius, sindiran budaya, atau sekadar lelucon Halloween dengan kualitas desain couture?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar ringan, tapi sesungguhnya mencerminkan sesuatu yang menarik: bagaimana fashion hari ini terus menegosiasikan relasinya dengan tubuh dan keterlihatannya.
Sejak awal, SKIMS tumbuh dari kontradiksi. Jika shapewear menekan tubuh untuk tampil lebih rapi, maka nipple bra dan faux hair thong justru menambahkan elemen yang dulu dianggap perlu dihilangkan. Tubuh yang tadinya “disamarkan” kini menjadi objek desain, bukan lagi dasar pakaian, tapi bagian dari estetikanya.


Kim Kardashian sendiri adalah cerminan dari logika itu. Sejak era reality show, ia membangun persona yang lahir dari dua hal: eksposur dan kontrol. Ia memperlihatkan banyak hal, tapi dalam bingkai yang sepenuhnya ia atur. SKIMS hanya melanjutkan narasi itu, hal-hal terkait tubuh tidak lagi hanya “ada,” tapi juga “dikurasi.”
Dalam sejarah mode, pakaian dalam adalah simbol “tersembunyi.” Namun SKIMS justru mengubahnya menjadi elemen yang tampak dan bahkan dibicarakan. Nipple bra dan faux hair thong memperlihatkan bahwa fungsi pakaian dalam kini tidak lagi terbatas pada penopang tubuh, melainkan juga sebagai penanda visual, bagian dari bahasa mode yang bisa dikirim, dibaca, dan diterjemahkan ulang.
Di era visual yang dikendalikan kamera dan algoritma, tubuh tak lagi sekadar eksistensi biologis, ia adalah image, tanda yang dapat dirancang dan diatur. Mungkin karena itu, produk semacam ini terasa “masuk akal”, ia berbicara dengan logika gambar, bukan logika fungsi.

Maka ketika orang bertanya, “Apakah ini rilis untuk Halloween?”, jawabannya mungkin iya, tapi dalam arti kultural. Karena Halloween selalu jadi momen untuk bermain identitas dan menertawakan norma, dan di tangan Kim, tubuh kini menjadi kostum itu sendiri.
Namun di balik humornya, ada refleksi yang lebih dalam, kenapa sesuatu yang menyerupai tubuh alami kini terasa seperti kostum? Dan apakah, di dunia digital ini, kita memang selalu tentang “berpakaian sebagai diri sendiri”, dalam versi yang sudah diatur pencahayaannya?
Baca juga: Gentle Monster: Label Eyewear Asal Korea yang Mendunia
Menurutku, SKIMS bukan sekadar merek pakaian dalam, namun sebuah bentuk eksperimen kultural tentang bagaimana tubuh dibaca, ditampilkan, dan dikelola. Produk seperti nipple bra dan faux hair thong tidak menawarkan solusi berpakaian, tapi menawarkan percakapan tentang tubuh, tentang keaslian, tentang bagaimana “natural look” kini juga bisa dirancang dan dijual. Kim Kardashian mungkin tahu satu hal yang sering dilupakan industri fashion, bahwa hari ini, “keaslian” tidak harus nyata, dan di hal itulah SKIMS bekerja, di ruang abu-abu antara ironi, estetika, dan strategi.
Images: Courtesy of SKIMS
