Mengusung tema “Costume Art”, Met Gala 2026 akan menjadi momen meleburnya karya seni rupa dengan hubungan antara tubuh dan pakaian.
Kita semua tahu bahwa Met Gala merupakan sebuah ajang fashion bergengsi tahunan yang kerap ditunggu-tunggu seluruh pelaku maupun pecinta fashion sedunia. Acara yang tujuan utamanya sebagai penggalangan dana untuk Costume Institute di Metropolitan Museum of Art di New York ini diadakan untuk mendukung operasional, konservasi, dan pameran koleksi kostum serta busana bersejarah yang dimiliki museum.
Sebagai acara tahunan, Met Gala baru saja mengumumkan “Costume Art” sebagai tema besar yang akan diusung pada pagelarannya di tahun 2026. Tema ini memusatkan pada dialog yang lebih mendalam juga mendukung tentang bagaimana peran tubuh yang berbusana sepanjang sejarah adalah bentuk seni yang penting juga valid.
Baca juga: Kontemporer dan Historis, Matthieu Blazy Mendebutkan Koleksinya untuk Chanel di PIFW 2026
Kita semua memang tahu bahwa seni memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang dalam bentuk tulisan, lukisan dua dimensi, pahatan tiga dimensi, audio visual, dan tentunya pakaian. Melalui tema ini, koleksi seni yang ada di Met Museum akan menyandingkan lukisan, benda, patung atau ukiran dengan pakaian-pakaian kontemporer yang historis.


Kiri: Ensemble oleh Rei Kawakubo untuk Comme des Garçons Fall/Winter 2017–18, Kanan: La Poupeé, Hans Bellmer 1936 © The Metropolitan Museum of Art
Melansir W Magazine, busana Comme des Garçons karya Rei Kawakubo yang dipenuhi bantalan secara khas ditempatkan di sebelah sebuah foto dari seniman Jerman Hans Bellmer yang menampilkan bentuk menggembung serupa. Tidak hanya itu, sebuah patung Yunani klasik juga akan disandingkan dengan gaun Fortuny dari tahun 1920-an yang memiliki warna senada.


Kiri: Gaun “Delphos”, Adèle Henriette Elisabeth Nigrin Fortuny dan Mariano Fortuny y Madrazo untuk for Fortuny, 1920s, Kanan: The Classical Body: Terracotta statuette of Nike, the personification of victory, Rogers Fund, 1907 © The Metropolitan Museum of Art
Andrew Bolton yang merupakan kurator untuk Met Museum, melalui Vogue, mengatakan bahwa tubuh yang diberi busana adalah elemen yang menghubungkan semua departemen dan galeri di museum. Menurutnya, inilah yang menjadi dasar ide dari pameran tersebut. Ia juga menambahkan bahwa meskipun bidang fashion kerap dianggap kurang penting, sebanarnya tubuh yang berbusana selalu menjadi pusat perhatian di setiap galeri. Bahkan tubuh yang tampak telanjang pun, selalu sarat dengan makna dan nilai budaya.
Selain itu, Bolton juga menegaskan bahwa secara tradisional, “Costume Art” dapat menegaskan pentingnya tubuh atau hubungan yang tak terpisahkan antara tubuh kita dengan pakaian yang kita kenakan. Hal ini, menurutnya, dikarenakan bahwa fashion memiliki keunggulan dibandingkan seni karena berkaitan dengan pengalaman hidup yang benar-benar dialami oleh tubuh.
Lalu, sebagai pecinta fashion, ekspektasi apa yang bisa kita miliki untuk Met Gala tahun 2026?
Jika Met Gala tahun depan mengangkat tentang bagaimana dalamnya hubungan antara tubuh dan pakaian, maka gaun-gaun sheer yang menampilkan keelokan lekuk tubuh manusia akan hadir di red carpet. Alih-alih hanya menyorot sensualitas dari penggunanya, gaun-gaun sheer ini justru kemungkinan besar akan memiliki pendekatan yang lebih konseptual yang berfokus pada kerentanan maupun keaslian tubuh manusia.
Pada sisi seninya yang lebih kental, akan mungkin juga bagi para undangan untuk menghadirkan penampilan yang menyerupai karya seni, baik itu gaun yang terinspirasi dari palet warna lukisan terkenal dan bersejarah atau bergaya seperti sosok yang terdapat di dalam karya seni historis populer untuk tampak lebih costume-y.
Met Gala akan digelar pada Mei 2026 mendatang di Metropolitan Museum of Art, New York. Setiap penyelenggaraannya selalu menjadi momen bersejarah, di mana para selebriti dan ikon fashion akan menampilkan beragam interpretasi kreatif mereka terhadap tema yang diangkat.
Images: Courtesy of The Metropolitan Museum of Art
