Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
The Femme Sneakers Hype: Blending Masculine and Feminine Silhouettes
Share your love
Alih-alih hanya menjadi sepatu olahraga, sneakers yang kini memadukan siluet feminin juga cocok untuk menjadi statement piece.
Pernah nggak sih kamu merasa sneakers yang nyaman itu sering kali terasa terlalu “boyish”? Atau sebaliknya, sepatu yang cute justru kurang bisa diajak jalan jauh atau jadi sepatu “tempur”? Kini, batas antara performa dan estetika mulai melebur dan membuka ruang baru bagi desain sneakers yang memadukan kepraktisan dan keanggunan.
Belakangan ini, sneakers mengalami pergeseran gaya yang menarik: perpaduan antara siluet maskulin dengan sentuhan feminin. Sepatu yang dulu identik dengan gaya utilitarian dan maskulin, kini tak lagi sekadar berfungsi untuk aktivitas harian atau olahraga. Berbagai desainer telah membuktikan bahwa fungsionalitas tidak harus mengorbankan sisi feminin, playful, dan chic-nya. Malahan keduanya bisa berpadu untuk menciptakan bentuk ekspresi personal baru yang lebih girly, stylish, dan edgy.
Baca juga: Simone Rocha dan Kekuatan Identitasnya yang Berharga
Perubahan ini terlihat jelas dalam berbagai koleksi sneakers rilisan terbaru yang merangkul balletcore aesthetic, detail manis, hingga siluet yang tak biasa namun memikat. Desainer seperti Sandy Liang, Cecilie Bahnsen, serta duo Laura dan Deanna Fanning dari lini womenswear Kiko Kostadinov, menjadi sosok kunci dalam mendorong batas desain sneakers menjadi lebih ekspresif dan berkarakter, menyatukan alas kaki dengan narasi busana yang mereka bangun.



Salah satu highlight paling manis di tahun 2023 menurutku datang dari Sandy Liang, desainer asal New York yang dikenal dengan estetika retro girly dengan sentuhan modern. Kolaborasinya dengan Salomon, brand yang identik dengan sepatu trail running, melahirkan model seperti RX Moc 3.0 dan XT-6 versi Sandy Liang yang penuh dengan detail khasnya: motif floral, warna bubblegum pink, satin finish, hingga pita kecil yang terasa sangat “coquette.”
Meski tampilannya feminin dan playful, sepatu-sepatu ini tidak kehilangan DNA performa khas Salomon. Sandy Liang sukses menyulap sneakers menjadi sesuatu yang manis, penuh gaya, tapi tetap siap diajak jalan jauh. Menariknya, ini bukan satu-satunya kolaborasi mereka, Sandy telah beberapa kali merilis koleksi kolaboratif dengan Salomon, masing-masing tampil dengan twist estetika yang makin memantapkan posisinya di antara sneakerhead perempuan masa kini.



Ada juga rilisan sepatu dari ASICS x Cecilie Bahnsen, yang membawa estetika dreamy khas Bahnsen ke dalam dunia sepatu performance. Dengan bunga appliqué, palet warna pastel, dan sentuhan tekstil yang lembut, sepatu ini tetap mengusung teknologi running ASICS yang kokoh dan stabil. Uniknya, koleksi ini hadir dalam full size run hingga ukuran pria, sehingga menjadikannya inklusif di tengah dominasi sneakers yang sering kali hanya tersedia untuk perempuan. Rilisan kolaborasi mereka pun terus berlanjut dan seolah tak ada habisnya. Bahkan pada 11 Juli 2025 lalu, mereka meluncurkan “Floral Pack” yaitu Gel Cumulus 16, yang jujur saja, kembali membuat shopping cart-ku penuh. Looks like restraining myself is not an option with this collab.
Baca juga: Rekomendasi Sepatu Cantik yang Wide Feet-Friendly


Tak kalah menarik, Ribbon Hybrid dan Ballerina Flats dari Kiko Kostadinov, mereka menyuguhkan sneakers yang kelihatan manis dengan vibe balerina, tapi tetap punya struktur teknikal khas sneakers. Perpaduan antara strap bergaya balet dengan sol sneakers performatif menghasilkan desain yang unik, cute!.
Fenomena ini tak hanya menandai perubahan selera, tapi juga mencerminkan bagaimana gaya hidup perempuan modern yang aktif, ekspresif, dan serba cepat mulai tercermin dalam desain alas kaki. Perempuan kini tidak lagi ingin memilih antara tampil manis atau fungsional, mereka menginginkan keduanya dalam satu langkah.
Inilah mengapa kolaborasi dari nama-nama besar seperti Simone Rocha, Cecilie Bahnsen, dan Fanning twins terasa begitu relevan. Mereka tidak sekadar mendesain sepatu, tapi menyusun narasi baru soal siapa yang bisa mengenakan sneakers, dan bagaimana bentuknya bisa terlihat ‘lembut’ tanpa kehilangan kekuatan visualnya. Menariknya, sebagian besar dari sneakers ini memang dirilis khusus dalam ukuran perempuan, memberikan kesan eksklusif sekaligus pengakuan bahwa selera perempuan tidak harus menyesuaikan diri dengan siluet sneakers pria.
Personally, aku pun menemukan hal ini sangat terasa saat mencoba Salomon RX Marie-Jeanne—versi Mary Jane dari brand trail-running yang dikenal dengan estetika teknikalnya. Sepatu ini seperti hasil kawin silang antara sepatu anak sekolah Jepang dan perlengkapan hiking Prancis, dan surprisingly, they just work 🔮✨✨. Ini merupakan my 1st Salomon yang aku beli, menurutku sangat unik memiliki RX Marie-Jeanne ini sebelum memiliki XT-6 dan memilih hitam sebagai basic item dalam wardrobe-ku agar dapat di-mix and match dengan mudah!


Dengan strap simpel dan bahan mesh yang ringan, sepatu ini memberikan sensasi ‘pretty but practical’’. Dipakai seharian pun tetap nyaman, dan cocok banget dipadukan dengan rok pleats atau barrel pants bikin look yang seimbang antara sporty dan feminine.
Images: Courtesy of The Luxury Reports, Courtesy of Kiko Kostadinov, Courtesy of Cecilie Bahnsen, Courtesy of Sandy Liang, Courtesy of Solomon

