Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
The Dream Closet: Dunia Nostalgia dan Feminitas Baru ala Sandy Liang dalam Kolaborasinya bersama GAP
Share your love
Terkenal dengan kemampuannya dalam menghidupkan memori dalam sebuah desain, Sandy Liang hadir dengan kolaborasi terbarunya bersama GAP.
“Playful essentials. Nostalgic elements. Inspired by her story and created for yours.” Kalimat pembuka kampanye ini terdengar sederhana, tapi di tangan Sandy Liang, kalimat tersebut menjadi manifestasi yang utuh. Bukan Sandy Liang kalau tidak membahas nostalgia, sesuatu yang ia olah bukan sekadar tema, melainkan bahasa. Lewat kolaborasinya bersama GAP, nostalgia itu kembali menemukan bentuk baru. Lebih dewasa, tapi tidak kehilangan feminimnya.
Koleksi Sandy Liang dan GAP, yang resmi dirilis pada 10 Oktober 2025, menandai kolaborasi antara dua simbol berbeda dari dua generasi mode. Seperti karya Liang sebelumnya, koleksi ini bukan tentang kemewahan, melainkan tentang sentimen, rasa yang familiar, sederhana, namun sulit dijelaskan. GAP, merek yang dulu identik dengan American basics, kini mendapat sentuhan personal dari desainer yang menjadikan kelembutan sebagai identitas kreatifnya.
“This collection is about celebrating yourself and wearing what makes you happy — no matter what other people think. And it’s nostalgic in a way that’s super wearable,” begitu kata Sandy Liang dalam rilis resminya.






Dan benar adanya, koleksi ini bukan nostalgia yang dikurung di masa lalu, tapi yang dirancang agar hidup di masa kini. Ada jaket denim cropped dengan trim vegan white fur yang bisa dilepas pasang, hoodie abu-abu dengan tulisan “SANDY” bergaya blok khas logo GAP, sebuah gestur simbolik yang mengubah identitas merek menjadi pernyataan pribadi, trench coat klasik dengan siluet lebih ringan, hingga ’90s loose carpenter jeans dengan detail bordir pita di saku belakang.
Detail seperti itu memperlihatkan bagaimana Sandy Liang tidak hanya meminjam arsip GAP, tapi juga menulis ulang ceritanya. Ia menyisipkan dirinya ke dalam sejarah merek, menciptakan dialog antara masa kecilnya sebagai konsumen dan dirinya kini sebagai desainer.



Koleksi ini juga menandai fase baru dalam perjalanan personal Sandy Liang. Untuk pertama kalinya, ia merancang pakaian bayi dan anak-anak, sebuah langkah yang terasa istimewa bagi desainer yang baru saja menjadi ibu tahun lalu. Bagi Sandy, koleksi kecil ini bukan sekadar perluasan pasar, tapi momen pribadi, seperti mewariskan kenangan masa kecilnya kepada generasi berikutnya. Potongan seperti baby cardigan dengan detail pita, denim lembut untuk anak, hingga hoodie mini berbulu terasa seperti bentuk kasih yang dijahit dalam kain. Ada kehangatan baru di sana, keintiman yang tumbuh seiring peran barunya sebagai seorang ibu.
Baca juga: Eksplorasi Kreatif Moncler dan JW Anderson Melalui Koleksi Kolaborasi
Campaign ini juga memperkenalkan sisi lain dari cara Sandy Liang bercerita, lewat visual animasi. Dalam video teaser “Step Into Sandy’s Dream Closet”, animator Annie Choi menciptakan dunia lembut bergaya dreamy anime atau seperti gaya Ghibli, di mana seorang anak perempuan membuat sketsa pakaian impiannya, dengan detail bintang kecil berpendar, dan meja berisi pensil pastel.
Dari teaser ini, GAP juga mengajak penonton untuk benar-benar melangkah masuk ke dalam lemari mimpi Sandy. Kegemasan pada animasi ini bukan hanya pada teaser saja, melainkan Q&A pada GAP terhadap Sandy untuk menceritakan tentang kolaborasi ini.
Kelembutan itu tidak berhenti di animasi. Di laman resmi GAP, halaman khusus kolaborasi ini juga menampilkan kursor berwarna pink dengan kilau kuning, detail kecil tapi bermakna, menyerupai ilustrasi tangan khas Sandy Liang. Di sekitar foto produk, muncul grafik bintang dan pita digital, seperti coretan di jurnal pribadi.
Detail ini menunjukkan bagaimana sentuhan Sandy meresap sampai ke dunia digital: pengalaman visual yang hangat, personal, dan tidak berjarak. Fashion dalam tangan Sandy Liang, bukan sekadar tentang bahan dan potongan, tapi tentang atmosfer emosional. Ia tahu bagaimana mengubah setiap titik interaksi, dari denim hingga kursor, menjadi bagian dari narasi yang sama.
Sejak awal kariernya, Sandy Liang membangun reputasi lewat eksplorasi memori, bukan nostalgia yang statis, tapi nostalgia yang terus bergerak. Ia menafsirkan ulang masa kecil, bukan untuk kembali, tapi untuk memahami dirinya yang sekarang. Kolaborasi dengan GAP memperluas ide itu, membawa personal memory menjadi shared memory.
Images: Courtesy of GAP
