Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
P. Johnson dan Nilai Keberlanjutan yang Dijejakinya di Jakarta
Share your love
Setelah sepuluh tahun lamanya singgah sementara, brand asal Australia, P. Johnson, akhirnya buka gerai permanen di Jakarta untuk menawarkan kemewahan dan keindahan berpakaian.
Kalau Prancis memiliki Paris sebagai pusat modenya, rasanya sah-sah saja bila kita menyebut Jakarta sebagai poros mode Indonesia. Bagaimana tidak, deretan brand internasional ternama hadir secara eksklusif di Ibukota, dan ada kehangatan tersendiri ketika setiap bulan selalu ada nama baru yang kini dapat diakses dengan mudah di Jakarta.
Salah satunya adalah P. Johnson. Brand yang digagas oleh Patrick Johnson dan Thomas Riley ini datang dari seberang benua, Australia, membawa kepakeman tailoring yang menjadi ciri khas mereka, terutama untuk artikel bespoke dan made-to-measure. Berlokasi di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, kami berkesempatan menikmati atmosfer rumah baru P. Johnson, sekaligus berbincang dengan kedua inisiator brand tersebut.

Label yang Diawali dengan Tailoring Services
Di dalam salah satu ruangan yang menyerupai showroom, tempat para klien bertukar gagasan sambil mencoba berbagai rancangan yang dibuatnya, Patrick Johnson dan Thomas Riley bercerita tentang perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini. Mereka menyebut bahwa usahanya masih tergolong muda dan lahir dari keinginan sederhana untuk membantu orang membangun lemari pakaian yang lebih baik.
Berawal dari layanan menjahit di Australia, bisnis itu tumbuh perlahan hingga membuka jejak di New York, kemudian London, dan selama hampir sepuluh tahun terakhir rutin singgah ke Jakarta sebelum akhirnya menetapkan kota ini sebagai rumah bagi showroom Asia pertamanya.
Tentang Sustainability dan Memberi Makna Bagi Konsumen
Meski berkembang melintasi berbagai kota besar, semangat dasar P.Johnson tetap sama, yaitu membimbing para klien menemukan pakaian yang bukan hanya layak pakai, tetapi juga mampu memperkaya hidup mereka serta dijalankan dengan kesadaran terhadap keberlanjutan. “Jadi, inilah nilai yang menjadi dasar dari apa yang kami lakukan, membangun komunitas, lingkungan, dan ruang yang terasa intim supaya kami bisa benar-benar mengenal para klien, dan semoga bisa membawa sedikit kebahagiaan serta membantu kehidupan mereka,” ujar Thomas Riley, Co-Founder P. Johnson, melengkapi perkenalan tentang P. Johnson yang dijelaskan oleh Patrick kepada The Luxury Reports.
Berbicara tentang keberlanjutan, P. Johnson merupakan brand yang menjunjung tinggi prinsip tersebut. Menurut mereka, keberlanjutan atau sustainability memang menjadi slogan yang dalam lima tahun terakhir kerap digaungkan dengan lantang oleh semua orang. Positif memang tampaknya, karena lebih banyak orang dalam industri mode semakin aware akan hal tersebut. Namun bagi P. Johnson, keberlanjutan bukan sekadar konsep yang dibicarakan, melainkan fondasi dari brand yang mereka bangun sejak awal. “Kami selalu membenci limbah, dan keberlanjutan seharusnya bukan lagi menjadi hal yang hanya diperbincangkan, melainkan sesuatu yang dilakukan oleh semua orang,” pungkas Patrick Johnson mengenai nilai keberlanjutan yang dipegang brand-nya.
Menurut P. Johnson, keberlanjutan bukan sekadar satu prinsip tunggal, melainkan pendekatan bertingkat yang menjadi dasar cara mereka bekerja. Tahap pertama adalah keberlanjutan lingkungan, yang mereka terapkan melalui pengendalian limbah dan penggunaan sumber daya secara hati-hati. Separuh dari produksi mereka masih berbasis pesanan khusus, sehingga setiap potong dibuat hanya ketika dibutuhkan, sementara lini ready-to-wear pun dijalankan dalam jumlah sangat terbatas. Mereka juga hanya bekerja dengan workshop yang menjaga standar tinggi, baik dalam proses produksi maupun dalam pemilihan bahan baku yang lebih bertanggung jawab.

“Ketika kami membuat pakaian untuk seseorang, kami ingin mereka mengenakannya seumur hidup sampai betul-betul habis terpakai dan mencintai pakaian tersebut sepenuhnya, lalu kembali untuk pakaian yang baru ketika memang sudah siap dan benar-benar membutuhkannya, bukan karena dorongan untuk terus menambah pakaian tanpa henti. Keseimbangan tentang hal itulah yang benar-benar kami fokuskan,” jelas Patrick Johnson mengenai nilai brand-nya kepada The Luxury Reports.

Lapisan kedua adalah keberlanjutan manusia. Lapisan ini mencakup perhatian terhadap orang-orang yang membuat pakaian mereka, juga mereka yang bekerja bersama membangun bisnis ini. P. Johnson berusaha menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan setiap individu berkembang dan menjalani hidup dengan lebih penuh.
Sejak awal, Patrick dan Thomas yang akrab disapa Tom bahkan menyisihkan sebagian kepemilikan perusahaan untuk para karyawan, sehingga banyak dari mereka kini menjadi pemegang saham. Dengan demikian, ruang kerja yang tercipta bukan hanya produktif, tetapi juga suportif dan setara.

Tahap ketiga adalah keberlanjutan finansial, bagian yang mungkin tidak terlalu glamor tetapi sangat penting. Menurut Patrick, P. Johnson tumbuh tanpa utang dan tanpa investor eksternal, berkembang perlahan namun mantap dari langkah kecil ke langkah berikutnya. Dengan menjaga kendali penuh atas arah bisnis, mereka merasa mampu membangun fondasi yang kokoh sekaligus memastikan masa depan brand berada di tangan mereka sendiri.
Duduk dengan sebuah brand fashion tentunya pembahasan terkait inspirasi desain dan pengaruh eksternal tidak semestinya luput dari runtutan perbincangan. Ketika ditanyakan tentang hal tersebut, keduanya menyebutkan bahwa akar inspirasinya hadir dari lingkungan dan gaya hidup yang dijalani, di mana Patrick tumbuh di sebuah pedesaan di Australia, Adelaide, lalu sekolah di Inggris dan mulai jatuh cinta pada pakaian. Meskipun demikian, pengaruh jati dirinya sebagai orang Australia tidak pernah hilang: santai, nyaman, dan gaya hidup pesisir yang ringan masih melekat pada dirinya sehingga ia memadukan semuanya dengan tradisi Eropa.
Patrick juga menambahkan, “Hal yang menguntungkan menjadi orang Australia adalah tidak adanya sejarah berpakaian yang signifikan di negara ini karena sangat lama Australia dikuasai oleh Eropa. Maka dari itu, kami melebarkan arah pandangan ke seluruh dunia yang dapat memberikan pengaruh-pengaruh itu ke dalam desain kami.”
Live Slow Die Old
Dengan nilai dan pengaruh yang mereka bawa ke Jakarta, wajar jika muncul pertanyaan mengenai alasan pemilihan kota ini sebagai satu-satunya lokasi P. Johnson di Asia. Selama hampir sepuluh tahun terakhir, brand ini memang kerap mengunjungi Indonesia, namun sejalan dengan slogan mereka Live Slow Die Old, P. Johnson tidak pernah terburu-buru dalam mengambil keputusan besar. Bahkan, saat diajak berkeliling showroom-nya, Tom menekankan bahwa prinsip Live Slow Die Old turut merefleksikan pepatah orang Jawa yang berbunyi, alon-alon-alon waton kelakon.

Pemahamannya tentang adanya kesinambungan antara motto yang dipegang dengan pepatah lama tersebut menggambarkan hubungan P. Johnson dengan Indonesia yang sudah terjalin cukup lama. Kedekatan itu pun membuat mereka memahami iklim, ritme, dan cara berpakaian masyarakatnya. Kehadiran permanen mereka di Jakarta akhirnya mendorong lahirnya koleksi yang disesuaikan dengan nuansa lokal, mulai dari bahan hingga desainnya.
“Kami sangat menyukai kain yang indah untuk menentukan arah desain sebuah pakaian. Untuk Indonesia, kami banyak menggunakan bahan katun dan sutra, terutama dupioni silk yang bertekstur lebih terbuka, memiliki ventilasi yang baik, dan jatuh di tubuh dengan sangat cantik,” ungkap Thomas Riley mengenai pendekatan koleksi P. Johnson untuk pasar Indonesia.
P. Johnson, dengan nilai yang mereka junjung, eksklusivitas yang dijaga, dan material yang dipilih dari berbagai penjuru dunia, berdiri sebagai salah satu rumah mode yang layak disebut mewah. Namun kemewahan, bagi mereka, bukan hanya perkara kain terbaik atau potongan yang presisi. Lalu apa sebenarnya makna kemewahan bagi P. Johnson?
“Bagi saya, kemewahan adalah keintiman. Kemampuan untuk membangun relasi dan benar-benar terhubung. Menurut saya, itulah yang pantas diterima orang, lebih dari sekadar produk, lebih dari sebuah ruang, lebih dari apa pun. Kemewahan adalah kemampuan untuk menjalin hubungan dan menyentuh seseorang, memindahkan mereka dari satu titik ke titik lainnya,” tutup Patrick Johnson dengan lugas di akhir perbincangannya dengan The Luxury Reports.
Images: Courtesy of P. Johnson


