Terkenal dari lapangan, Jannik Sinner kini mencuri perhatian di dunia fashion berkat kolaborasinya dengan Gucci
Tenis selalu punya hubungan dengan gaya hidup elegan, tapi Jannik Sinner membawanya ke level baru. Meskipun kalender Grand Slam 2025 sudah berakhir, satu fenomena yang masih terus jadi bahan obrolan di luar statistik pertandingan adalah gaya Jannik Sinner dan duffle bag Gucci. Sinner bukan hanya petenis nomor satu dunia kemarin, dalam tiga tahun terakhir ia menjalin kerja sama dengan Gucci, sebuah sorotan yang menunjukkan bahwa batas olahraga dan fashion semakin tipis, dan seorang atlet bisa berdiri di keduanya.
Kolaborasi Sinner dan Gucci terasa sangat natural. Keduanya berasal dari Italia, negara yang terkenal dengan warisan fashion dan elegan lifestyle. Gucci lahir di Firenza, sementara Sinner tumbuh menjadi ikon olahraga baru dari generasi muda Italia. Asosiasi Made in Italy ini membuat hubungan keduanya tampak natural, bukan hanya soal bisnis, tapi juga cara keduanya menampilkan karakter elegan khas Italia yang berkelas dan penuh karakter.
Gucci sendiri tahu betul apa yang mereka lakukan dengan memilih Sinner. Sejak 2022, Gucci resmi mengumumkan Jannik Sinner sebagai brand ambassador mereka. Kehadirannya berlanjut dalam global campaign, contoh pada Gucci Is a Feeling, yang menegaskan peran Sinner sebagai wajah baru luxury brand asal Italia ini. Hadirnya Sinner dalam campaign ini memperkuat pesan Gucci sebagai luxury brand tak hanya milik runway, tapi juga bisa masuk ke arena olahraga, tetap relevan, dan punya daya tarik di lintas generasi.


Debut perdana kolaborasi Sinner dan Gucci hadir di Wimbledon 2023. Sinner menjadi pemain pertama dalam sejarah turnamen 146 tahun itu yang membawa luxury bag Gucci ke lapangan. Ternyata, tidak sesederhana itu untuk bisa tampil dengan tas mewah di Centre Court.
Aturan di Wimbledon dikenal ketat, selain soal dress code serba putih, detail apa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke lapangan juga ada aturannya. Karena hal tersebut, Gucci dan tim Sinner harus mengajukan izin khusus kepada pihak All England Club agar duffle bag tersebut bisa dibawa pada tahun 2023 lalu. Persetujuan ini membuat momen Sinner kian bersejarah, karena ia berhasil menghadirkan fashion statement di turnamen yang biasanya cenderung kaku pada ekspresi gaya personal dan debut perdana hadirnya sebuah duffle bag Gucci ini dengan inisial J.S. di Centre Court.


Di US Open, tas itu bahkan dibuat custom dengan monogram biru-abu-abu dengan strap warna biru khas turnamen tersebut. Tas ini bahkan bukan hanya aksesori, melainkan fungsional untuk starter pack Sinner di dalamnya. Singkatnya, duffle bag ini adalah perpaduan fungsi atletik dan simbol fashion. Dari sana, kolaborasi Gucci dan Sinner berkembang semacam seri yang menemani langkahnya di tiap turnamen besar.


Tahun 2024, Roland Garros menjadi panggung bagi gebrakan baru selanjutnya yaitu, duffle bag Gucci x Head berwarna putih dengan strap warna khas Gucci. Warna ini menjadi kontras dengan lapangan tanah liat Paris ini makin mencuri perhatian. Kolaborasi ini tampak serasi dari awal, karena Head adalah brand raket yang sudah lama berasosiasi dengan Sinner di lapangan. Kehadiran Gucci dalam kolaborasi ini memperluas makna partnership sebagai identitas gaya.
Hingga sekarang, Sinner masih membawa duffle bag ini dengan gagah ke lapangan, seolah itu sudah menjadi bagian dari identitasnya sebagai atlet dan ikon fashion sekaligus. Konsistensi itu membuat publik tidak lagi hanya menunggu permainannya, tapi apa lagi surprise yang mau disampaikan oleh Gucci. Bahkan, dalam sebuah talkshow di kanal YouTube ATP Tour, ketika para pemain dilempar pertanyaan “Who’s the best pre-match walkout?”, salah satu rekannya menjawab,”after Jannik did in Wimbledon with a Gucci bag,….”. Spontan semua pemain langsung sepakat bahwa Sinner mengambil spotlight itu. Sinner sendiri menanggapinya dengan rendah hati, menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah privilege baginya.
Images: Courtesy of Getty Images, Courtesy of Gucci


