Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Taman Kanan-kanak / Sekolah Dasar Talimbayat
Gajahbercerita dan Upayanya Memberdayakan Perempuan untuk Budaya
Share your love
Menggaungkan ‘Dari Puan untuk Perempuan’, Gajahbercerita membagi perjalanan, rintangan, juga usahanya dalam menjaga tradisi tenun bersama perempuan.
Berpelesir ke Jawa Tengah tentu tidak semestinya melewatkan kota istimewa Yogyakarta. Situs-situs peninggalan dan budaya serta adab santun manusia yang terus terjaga kearifannya menjadikan kota ini sebagai tempat singgah yang meneduhkan. Paling tidak, itulah yang terlintas di pikiranku ketika diharuskan mendeskripsikannya dengan singkat.
Penuh dengan kejutan di tengah keramaian turis, menelusuri jalan Prawirotaman di malam hari mengantarkanku pada sebuah toko klasik bernama As Java yang menjual pernak-pernik khas setempat. Tepat pada bagian halaman depan toko ini, terdapat satu lapak yang menjual pakaian tenun cantik dengan berbagai warna juga potongan khas. Berbincang singkat dengan sang pemilik lapak, perkenalan dengan Gajahbercerita memang tidak berlangsung lama, namun berujung pada sekantong pakaian yang kubawa pulang.


Pertemuan singkat itu memperkenalkan aku dengan Aditya, sosok di balik Gajahbercerita yang berupaya memajukan perekonomian juga memberdayakan perempuan sekaligus menerjemahkan budaya tenun melalui sentuhan yang lebih kekinian. Berlatar belakang dari keluarga yang memang dekat dengan fashion, Aditya tumbuh dari keluarga penjahit, penenun dan pembatik.
Pemilihan nama Gajahbercerita itu sendiri mendengungkan pertanyaan besar di kepalaku, kenapa harus gajah? Aditya menjelaskan, “Gajah itu sangat relate bagi saya. Dan ‘bercerita’ itu sendiri karena saya ingin bertutur melalui busana, sehingga cara saya menyampaikan perasaan saya itu melalui gajah dan lewat karya yang saya buat.”
Label pakaian yang ia buat pada awal tahun 2020 di kala COVID-19 melanda dunia ini sebenarnya merupakan sebuah keinginannya sejak lama. Namun, karena pada masa pandemi banyak orang yang kehilangan pekerjaan, salah satunya adalah para pengrajin, Aditya berkeinginan untuk membantu perempuan-perempuan lansia untuk tetap bisa berdikari melalui Gajahbercerita yang membutuhkan jasa mereka sebagai penenun.
Baca juga: P. Johnson dan Nilai Keberlanjutan yang Dijejakinya di Jakarta
Menurut Aditya, pada masa kelam pandemi tersebut sangat banyak perempuan lansia penenun yang beralih pekerjaan menjadi penjual nasi angkringan hingga penjual kopi di jalanan. “Menurut saya, kita belum siap untuk kehilangan mereka, karena masih sedikit generasi muda yang mau belajar menenun secara handmade. Mereka harus ada, dan dipertahankan,” jelas Aditya.


Bagi Aditya, tradisi tidak pernah bisa dilepaskan dari peran perempuan. Perempuanlah yang selama ini menjadi ruang belajar pertama, tempat nilai dan pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Apa yang kita pahami hari ini dan kelak di masa depan, berakar dari tangan, ingatan, serta ketekunan perempuan yang menjaga tradisi agar tetap bernapas. Karena itu, hadirlah slogan ‘Dari Puan untuk Puan’ khas Gajahbercerita yang menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi bukan sekadar soal melestarikan teknik, melainkan merawat peran perempuan di dalamnya.
Lewat Gajahbercerita dan latar belakangnya di dunia fashion, Aditya memilih untuk memperkenalkan, mempertahankan, sekaligus merawat tradisi tersebut dengan cara yang paling ia pahami: memberi ruang agar perempuan-perempuan penenun tetap berkarya dan berdikari.
Sejauh ini, Gajahbercerita telah memberdayakan perempuan secara ekonomi dari berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Pekalongan, Kebumen, hingga Banyuwangi. Di kota paling timur Pulau Jawa itu, perjalanan Aditya justru menemukan titik awal yang personal. Perempuan-perempuan yang pertama kali membersamainya dalam proses membatik berasal dari komunitas jemaat wihara, sebuah komunitas Buddha di Banyuwangi.


Pada masa itu, sebagian besar ibu-ibu tersebut tidak memiliki pekerjaan tetap. Hasil kebun yang mereka kelola pun hanya cukup untuk bertahan hidup, mengingat lahan yang digarap bukan milik sendiri, melainkan sistem sewa yang membuat posisi mereka serba tidak pasti. Kondisi tersebut mendorong Aditya dan rekannya untuk datang langsung ke Banyuwangi dan membuka ruang kerja bersama. “Yang pertama kali membersamai saya dalam membatik itu perempuan-perempuan jemaat wihara Buddha di Banyuwangi,” tutur Aditya.
Pendekatan Aditya kepada perempuan-perempuan ini tidak pernah dimulai sebagai ajakan kerja semata. Ia lebih memilih mengajak mereka berjalan bersama, membangun kepercayaan sebelum berbicara soal produksi. Bagi Aditya, pemberdayaan perempuan, terutama lansia, tidak cukup hanya dengan membuka lapangan kerja, tetapi juga dengan membuka cara pandang. Ia ingin perempuan memiliki kebebasan finansial, bukan sekadar bergantung pada pasangan atau keadaan.
Di ruang-ruang sederhana seperti wihara, ia memulai percakapan, memberi motivasi, dan menegaskan bahwa kerja mereka memiliki nilai. Sistem fair trade pun diterapkan sebagai prinsip dasar: upah yang adil sebagai bentuk penghargaan atas keterampilan, waktu, dan tenaga yang mereka curahkan. Dari situ, menenun bukan lagi sekadar aktivitas sambilan, melainkan medium untuk meraih kemandirian dan martabat.
Berbicara tentang pakaian, tentu saja perihal sustainability semestinya menjadi topik yang juga disinggung dalam percakapan kami. Menurut Aditya, nilai keberlanjutan tidak ia posisikan sebagai jargon atau klaim sepihak, karena ia memahami bahwa keberlanjutan bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dicapai secara mutlak, melainkan dijalani melalui pilihan-pilihan sadar yang konsisten. “Saya tidak bisa mencegah, tapi saya bisa mengurangi,” ujarnya.


Bagi Aditya, keberlanjutan juga dapat berangkat dari tangan dan dari proses yang sepenuhnya manual, tanpa campur tangan mesin, sehingga setiap karya memiliki usia pakai yang lebih panjang dan ketahanan yang lahir dari kerja yang telaten. Seluruh proses produksi Gajahbercerita dilakukan secara handmade, dengan pengolahan yang minim limbah. Ia juga jujur dan tidak menutup mata bahwa dalam beberapa koleksinya masih menggunakan pewarna tekstil untuk mencapai warna-warna tertentu yang lebih berani, yang tidak dapat dihasilkan dari pewarna alam.
Bagi Aditya, membangun Gajahbercerita bukan tentang kesulitan, melainkan tentang rintangan yang datang bersama pilihan nilai yang ia pegang. Ia menyebut pekerjaannya sebagai sesuatu yang ia cintai, sehingga kata “sulit” terasa kurang tepat untuk menggambarkannya. “Kita sebut saja rintangan,” ujarnya ketika aku menanyakan tentang kesulitan yang ia hadapi dalam membangun Gajahbercerita.
Salah satu rintangan terbesar baginya adalah kenyataan bahwa masih banyak orang yang belum terbiasa menghargai proses. Keinginan akan sesuatu yang serba instan kerap berujung pada tuntutan harga serendah mungkin, tanpa mempertimbangkan kerja panjang di balik sebuah karya.
Di sisi lain, pilihan untuk memberdayakan perempuan menuntutnya untuk lebih dulu berdiri tegak sebagai individu yang berdaya. Baginya, pemberdayaan bukan konsep satu arah. “Bagaimana saya bisa memberdayakan kalau saya sendiri tidak berdaya,” katanya. Prinsip itu terjalin langsung dengan cara ia menjual karya, bukan sekadar produk. Aditya mengaku tidak pernah mempermasalahkan soal berjualan, tetapi ia memiliki harapan agar karya Gajahbercerita dapat dibeli dan dihargai oleh masyarakat Indonesia sendiri, meski pada kenyataannya apresiasi justru lebih banyak datang dari pendatang atau turis mancanegara.


Apa yang dilakukan oleh Aditya dalam Gajahbercerita tentunya merupakan sebuah penyegaran unik, bermakna dan menginspirasi yang kudapatkan dari hasil cuti bekerja selama tiga hari di Yogyakarta. Sekaligus memanfaatkan percakapan yang sedang berjalan, aku pun mempertanyakan tentang makna dari satu helai pakaian yang kubeli pada saat itu. Aditya menjelaskan bahwa pakaian yang aku pilih adalah tenun ikat, yang pembuatan kainnya saja membutuhkan waktu selama 4 bulan.
Berjumpa dengan Gajahbercerita beserta nilai-nilai yang diusungnya merupakan sebuah kemewahan tersendiri bagiku, apalagi dengan fakta bahwa pakaian yang kubeli secara tidak langsung membantu perempuan-perempuan dari ekonomi rendah untuk hidup sekaligus berdaya di kaki mereka sendiri.
Tidak sah rasanya apabila lawan bicara The Luxury Reports tidak ditanyakan tentang apa arti kemewahan bagi mereka. Maka, apa sebenarnya yang dimaknai kemewahan bagi Gajahbercerita?
“Kemewahan adalah penerimaan, tidak dilihat dari bentuk atau hasil yang didapat, melainkan dari proses upaya kita mewujudkannya,” tutup Aditya.
Images: Courtesy of Gajahbercerita

