Kalau berbicara tentang luxury watch, Cartier Panthère adalah pilihan klasik dan edgy.
Setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Bagaimana cara memuaskan hasrat dalam berbelanja, mau dialokasikan ke dalam produk apa; tidak ada yang benar atau salah. Tapi, kalau ingin memiliki satu item yang bertahan lama, bahkan bisa diwariskan ke anak cucu, maka jam tangan adalah jawabannya.
Rasa cinta saya kepada karakter James Bond menjadi magnet pertama kenapa saya tertarik dengan luxury watch. Omega Seamaster yang selalu menghiasi pergelangan James Bond di dalam filmnya sejak dekade 1990, pernah melingkar di tangan kiri saya. Begitu juga ketertarikan atas prestige kepada Rolex yang selalu muncul di kertas lirik lagu hip-hop, membuat otak ini berputar demi mendapatkannya. Tapi, setelah merasakan keduanya, saya malah menjatuhkan pilihan terakhir kepada Cartier Panthère.

Cartier Panthère bukanlah model paling terkenal dari brand asal Prancis ini. Masih ada Tank dan Santos yang lebih sering saya lihat di feed Instagram para penjual luxury watch. Bahkan, saya baru mengenal dan mendalami Panthère hanya 2-3 hari sebelum memutuskan membelinya. Sebelumnya? Cartier Tank adalah target saya satu-satunya.
Tyler, the Creator adalah inspirasi utama kalau kita bicara tentang Cartier. Koleksi Cartier miliknya membuat saya sadar bahwa brand ini bisa ditarik masuk ke dalam arena luxury streetwear. Caranya cuma satu, dan tidak ada yang lain: mengganti strap dengan warna-warna pop.

Lewat customization yang fleksibel, Cartier Panthère tahun 1995 ini saya beli dengan harga sangat terjangkau. Menurut sang penjual, bagian crown dan dial tidak sesuai reference, namun semuanya asli. “Ah yang penting Cartier dan gak ada part aftermarket,” pikir saya. Toh siapa orang yang berani meneliti jam tanganmu sampai hanya berjarak 10 cm dari pandangannya, demi memberikan penilaian apakah semuanya asli dan sesuai reference? At the end of the day, this is still Cartier.
Diameternya 27 x 36 mm, sesuai dengan apa yang saya inginkan. Bosan rasanya melihat jam tangan pria dengan diameter hingga 41 mm bahkan lebih. Sudahlah diameternya besar, tingkat ketebalannya juga mengganggu estetika pula, khususnya untuk untuk jam tangan dengan movement quartz alias menggunakan baterai.
Cartier Panthère milik saya juga memakai movement quartz; lebih memudahkan daripada membeli jam automatic atau manual yang butuh ekstra perhatian. Intinya, saya ingin jam tangan yang tinggal pakai tanpa harus di-setting setiap hari atau tiba-tiba mati karena pendulum-nya error. Kalau di mata watch enthusiast, tantangan seperti itu akan direspons dengan rasa maklum. Tapi bagi saya, jam seperti itu tidak reliable untuk digunakan dalam beraktivitas.


Demi menduplikasi cara Tyler, the Creator dalam mempercantik Cartier Panthère, strap dari HNMD jadi pilihan untuk mendapatkan strap yang saya inginkan. Material ostrich leg leather dengan warna acqua menarik mata ketika datang langsung ke store mereka di kawasan Wijaya; dan warnanya sangat Tyler-esque pula. Berkat kerja apik tim HNMD, akhirnya Cartier Panthère berumur 30 tahun ini berhasil lahir kembali dan disempurnakan sesuai selera.

Apakah saya puas menggunakan jam tangan ini? Jelas sangat puas, apalagi setelah sempat memiliki Omega dan Rolex. Ada pelajaran yang bisa diambil tentang bagaimana jam tangan bisa melengkapi aesthetic dan image-mu. Dan mungkin saja, jam ini tidak akan saya jual seperti dua brand sebelumnya, karena romantisme yang muncul saat membayangkan Cartier dengan sejarah dan pendekatan desainnya. Suatu berkat tersendiri, karena ada produk dari Cartier di dalam hidup keseharian saya.
Kalau kamu, apakah ada sebuah jam tangan yang punya kisah tersendiri di hati dan keseharianmu?
Images: Courtesy of The Luxury Reports.



