5 Hal yang Berubah dari Cara Aku Merawat Kulit di Usia 30-an

Dalam berbagai hal, usia 30-an sangat berbeda dengan era 20-an, termasuk soal urusan kulit.

Banyak orang bilang, “life begins at 30”. Usia 30-an ini adalah masa produktif, sebuah dekade petualangan, pembelajaran, dan beragam kesempatan. Bukan cuma menghadapi tantangan dalam menjalani hari-hari sebagai seorang ibu dan perempuan bekerja, usia 30-an memberi aku banyak perspektif berbeda tentang kehidupan.

Perubahan yang terjadi di usia 30-an ini sama seperti banyak perubahan lainnya, kadang kita nggak bisa dengan mudah menerimanya atau menjalaninya. Tapi, ada hal yang sangat aku pelajari di dekade ini, yaitu self-acceptance. Aku cukup perfeksionis di usia 20-an, tapi di masa ini aku jadi berusaha lebih take it easy. Ketika lebih muda, ada kalanya aku merasa “lebih hidup” ketika bisa melakukan banyak hal sekaligus di satu hari. Tapi di usia 30-an ini, aku mempersilakan diriku untuk “jeda”, menghargai diri sendiri untuk beristirahat sebentar. Belajar menerima bahwa tidak semua hal baik bisa datang di waktu yang sama. Belajar menerima bahwa ekspektasi kadang tidak sejalan dengan kenyataan, menerima bahwa diri sendiri bisa ambil keputusan yang salah. Menerima bahwa tubuh nggak semuda dulu lagi, metabolisme melambat, lebih gampang capek, jadi butuh olahraga dan makanan yang bernutrisi.

Begitu pun soal merawat kulit. Sekarang aku nggak lagi mengejar kesempurnaan atau step yang rumit dan berlapis-lapis. Ada 5 perubahan yang aku rasakan tentang caraku merawat kulit ketika sudah di usia 30-an ini. Simak selengkapnya di bawah ini ya, karena mungkin kamu juga merasakan atau membutuhkan hal yang sama!

  1. Bye-bye, matte!

Waktu usia belasan dan 20-an, aku punya kulit yang sangat berminyak, seperti banyak orang lainnya yang mengalami masa puber. Untungnya, kulitku bukan tipe acne-prone, jerawat hanya muncul sesekali ketika lagi PMS. Tapi tetap saja, saat itu aku merasa minyak berlebih sangat mengganggu, jadi aku bawa blotting paper ke mana-mana dan fokus ke produk yang punya fungsi mengontrol sebum dan mattifying. Skincare dan makeup yang bikin kulit semakin matte, artinya semakin bagus.

Tapi, ketika masuk usia 30 (yang sudah 6 tahun lalu!), ternyata aku nggak lagi mengidolakan complexion yang matte. Aku suka glowy finish, aku suka kulit yang bercahaya sehat dan terlihat plumpy, karena kulit yang berubah lebih kering seiring bertambah usia adalah sebuah fakta. Di masa-masa ini, produk skincare yang dipakai harus yang hydrating, baik di pagi maupun malam hari. Aku nggak lagi khawatir soal acne dan oily skin, aku lebih anxious kalau kulitku terasa “tight” atau iritasi karena terlalu kering. Aku bisa terbangun jam 2 pagi kalau merasa kulitku belum cukup lembap saat aku tidur.

2. Skinimalism

Aku pernah berada di era ketika 10 steps Korean skincare adalah segalanya. Selain basic skincare (cleanser, moisturizer, dan sunscreen), aku punya beragam toner, essence, ampoule, sheet mask, sleeping mask, eye gel patch, dan face oil yang dipakai berlapis-lapis di waktu yang sama, demi skin goals ala seleb Korea atau kulit jernih dan glowing yang aku idamkan. Tapi, seiring waktu, aku menyadari kalau itu semua bukan keharusan.

Sekarang aku fokus ke basic skincare, ditambah dengan serum, eye treatment, dan produk eksfoliasi untuk mengangkat sel kulit mati. Bukan berarti aku nggak tertarik pakai toner, essence, face mist, atau beragam masker lagi, tapi aku nggak greedy dan nggak mengaplikasikannya di waktu yang sama. Saat pagi, untuk menyingkat waktu, aku sering pakai serum dan sunscreen saja. Saat malam, kadang hanya serum, moisturizer, dan face oil saja. Bahkan, kadang saking capeknya, setelah mandi dan membersihkan muka, aku hanya pakai serum mist yang banyak, lalu tidur. Ternyata, kulitku baik-baik saja.

Skinimalism bukan sekadar tren, buatku ini memberi dampak yang besar. Memangkas ritual skincare jadi lebih singkat bikin aku menikmati semua step tanpa terburu-buru. Skincare routine setiap hari terasa lebih menyenangkan, bukan pressure. Aku jadi lebih rileks saat mengaplikasikan produknya ke kulit, menghirup aromanya, mengoleskan teksturnya. Kulitku nggak lagi mudah iritasi karena “kebingungan” menerima banyak produk di waktu yang sama. Dulunya, waktu masih rutin 10 steps bahkan 12 steps, kulitku suka “rewel”, jadi perih dan kemerahan, mungkin karena kewalahan dengan beragam ingredients yang bercampur jadi satu.

Aku pun jadi lebih mindful dalam membeli dan menghabiskan semua produk yang aku punya, nggak sembarangan beli yang nggak aku butuhkan. Hasilnya? Jadi meminimalkan sampah juga!

3. Skin barrier is everything

Aku pernah ada di fase suka mencoba beragam produk eksfoliasi, demi pori-pori bersih dan kulit glowing, tapi akhirnya jadi over-exfoliating, bikin kulit iritasi sampai mengelupas. Belajar dari hal itu, aku jadi lebih berhati-hati dan menjaga skin barrier. Kalau skin barrier terganggu, kulit bisa kemerahan, gatal, kering, dan sensitif, yang tentunya bikin kulit impian kita jadi makin jauh. Aku senang karena sekarang banyak produk skincare dengan kandungan Ceramide, Hyaluronic Acid, Panthenol, Niacinamide, dan oat untuk mendukung fungsi alami kulit dalam memproteksi diri.

4. Choose the right ingredients

Dengan fakta bahwa setelah usia 25 tahun kolagen di kulit kita berkurang setiap hari, di usia 30-an ini aku jadi fokus ke ingredients yang bikin kulit lebih kenyal, kencang, dan bisa menunda tanda-tanda penuaan. Contohnya, ginseng (seperti produk-produk Sulwhasoo), bunga camellia (seperti yang ada di dalam No.1 De Chanel), bunga immortelle (seperti rangkaian L’Occitane Immortelle), atau white truffle (seperti kandungan utama D’Alba).

Banyak juga kandungan lain yang powerful untuk menjaga elastisitas kulit dan bikin kulit kelihatan youthful, seperti vitamin C, green tea, pomegranate, Allantoin, jamur reishi, cornflower, beragam Peptide, vitamin E, jojoba oil, rosehip oil, Ferulic Acid, dan tentu saja retinol.

Aku agak sensitif dengan retinol dan Glycolic Acid dosis tinggi, jadi aku pilih yang lebih gentle. Aku jarang berjerawat, jadi jarang pakai skincare dengan Salicylic Acid. Aku merasa bakuchiol kurang efektif kalau dipakai tanpa retinol. Kulitku kadang iritasi kalau pakai skincare dengan kandungan parfum yang tinggi, jadi aku menghindarinya. Dengan mengenali kondisi kulit dan kebutuhan kulit lebih dalam lagi, aku merasa hubunganku dengan kulitku jadi lebih dekat. It’s something very personal, and I love it so much. Skincare routine aku jadi lebih efektif, kulitku jadi lebih sehat dan jarang bermasalah.

5. Say hi to beauty clinics!

Kalau di usia 20-an aku masih merasa takut dan belum merasa butuh rutin ke klinik kecantikan, di usia 30-an ini aku jadi lebih excited mencoba beragam treatment yang bisa mendukung kondisi kulitku. Bukan lagi sekadar facial treatment yang sifatnya pembersihan mendalam, aku sudah coba Radio Frequency, Microneedling, Microdermabrasion, Pico Laser, HIFU, Skin Booster, sampai Morpheus 8, yang bisa mengurangi dark spots, memperbaiki tekstur kulit, dan mengencangkan kulit.

Buat kamu yang masih belum berani ke klinik, coba deh pilih klinik kecantikan terpercaya, konsultasi dengan dokter kulitnya, dan pilih treatment yang sesuai dengan skin concern kamu. Aku percaya kalau kulit yang bagus itu adalah perpaduan dari produk skincare yang tepat setiap hari, gaya hidup yang sehat, dan kunjungan rutin ke klinik kecantikan.

Gimana perjalan kulit kamu di usia 30-an? Apakah kamu punya cerita atau kebutuhan yang sama? Kasih komentar di bawah ini ya!

Share your love

No comments yet

  1. Semua point-nya sama banget kakpop! Tinggal point no.5 tapi masih punya baby (semoga terakhir ini haha). Nanti setelah lulus asi Bismillah mau mulai treatment ke klinik. Maybe next ada artikel rekomendasi beauty clinics?

  2. thankyou! 🙂 kalo masih punya baby bisa facial treatment aja dulu, nanti ke depannya bisa yang lebih advance. boleh, next time bakal ada berbagai artikel tentang beauty treatment dan beauty clinic juga. tunggu yaa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *