Berangkat dari kenangan masa kecil hingga membangun label luxury modern, PEGGY HARTANTO merajut ketelitian, wearability, dan koneksi emosional sebagai definisi kemewahan yang sesungguhnya.
Ada benang-benang kenangan yang tak pernah benar-benar putus. Pada PEGGY HARTANTO, benang itu berawal dari sebuah mesin jahit hitam milik sang nenek. Dari sore-sore yang dihabiskan menyaksikan ibu dan neneknya menjahit, dari sisa kain yang berubah menjadi baju untuk boneka. “Aku menggunakan sisa kain nenek untuk membuat baju boneka, itu pengalaman pertamaku dengan fashion,” kenangnya. Saat itu, ia belum tahu bahwa kebiasaan kecil tersebut kelak menjelma menjadi fondasi sebuah label luxury modern.

Tahun-tahun berlalu, membawa Peggy menempuh pendidikan Fashion Design di Sydney dan bekerja bersama Collette Dinnigan. Namun perjalanan itu justru mengantarkannya pulang, dengan satu tujuan yang terasa personal: menghadirkan ready-to-wear occasionwear yang modern dan effortless. Pada masanya, di Surabaya, busana formal identik dengan karya penjahit yang sarat payet dan detail berat. Peggy membayangkan alternatif lain, terinspirasi oleh gaya Australia yang santai namun tetap elevated.
Debut itu akhirnya hadir pada 2012 di Jakarta Fashion Week. Hanya sepuluh tampilan, sembilan gaun dan satu jumpsuit, menjadi penanda lahirnya PEGGY HARTANTO. Koleksi bertajuk UNSEEN tersebut bukan sekadar perkenalan, melainkan langkah awal sebuah perjalanan panjang yang dibangun dengan kesadaran penuh.
Di balik nama PEGGY HARTANTO, berdiri tiga saudari dengan peran yang berbeda namun saling mengisi. Peggy memegang sisi kreatif dan teknis desain. Petty, dengan latar belakang desain grafis, membangun identitas visual dan bahasa brand yang minimalis namun berdaya. Sementara Lydia, berlatar teknik, menjadi penopang struktur bisnis dan arah jangka panjang. “Kami jatuh ke peran masing-masing secara alami sejak awal,” ujar mereka.


Membangun label luxury dari luar pusat-pusat mode dunia tentu tidak berjalan tanpa rintangan. Tantangan terbesar mereka adalah visibilitas. Beroperasi jauh dari fashion capitals membuat mereka harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapat pengakuan, baik dari pasar internasional maupun domestik, di mana label luar kerap lebih diutamakan.
Namun, PEGGY HARTANTO memilih bertahan pada satu nilai utama: ketelitian. Dalam estetika minimalis yang mereka anut, tidak ada ruang untuk kesalahan. “Kami terobsesi dengan detail kecil. Dalam minimalisme, tidak ada tempat untuk bersembunyi,” tutur Peggy.


Di sinilah konsep empowerment melalui wearability menemukan bentuknya. Bagi PEGGY HARTANTO, busana dapat memberdayakan perempuan ketika ia memungkinkan pemakainya bergerak dengan bebas dan percaya diri. “Fungsionalitas adalah bentuk penghormatan kepada perempuan yang mengenakan pakaian kami,” ungkapnya. Bahkan pada gaun-gaun malam mereka, kantong sering kali diselipkan jika secara teknis memungkinkan, detail kecil yang kini menjadi ciri khas.
Produksi dalam jumlah terbatas pun bukan strategi eksklusivitas semata. Setiap detail aplikasi dan leather goods dikerjakan secara manual, dari pengecatan tepi hingga pengeringan yang membutuhkan kesabaran. Proses ini tidak bisa dipercepat. Dengan batch kecil, mereka dapat mengawasi setiap sentimeter karya yang dihasilkan, memastikan dedikasi itu benar-benar terasa.
Kini, PEGGY HARTANTO telah menjelma menjadi salah satu brand mewah Indonesia yang digemari oleh berbagai kalangan. Namun, apa sebenarnya yang dianggap mewah oleh PEGGY HARTANTO?
Pada perayaan sepuluh tahunnya, para perempuan membagikan kisah tentang bagaimana busana PEGGY HARTANTO hadir di saat-saat paling rentan sekaligus paling membahagiakan dalam hidup mereka, bahkan terus dikenakan hingga menemani ulang tahun anak-anak mereka.


Bagi PEGGY HARTANTO, nilai tertinggi dari sebuah karya bukan terletak pada pujian atau sorotan, melainkan pada kehadirannya dalam hidup seseorang. Ketika sebuah busana bisa disimpan, dikenang, dan terus dipilih kembali, di sanalah ia menemukan maknanya.
“Kemewahan adalah koneksi emosional. Ketika sebuah pakaian hadir dalam momen paling rentan dan paling membahagiakan seorang perempuan, lalu tetap ia cintai bertahun-tahun kemudian,” tutup PEGGY HARTANTO.
Images: Courtesy of PEGGY HARTANTO


