Breaking into Hermes; My First Piece

Kalau membahas tentang Hermès, pasti yang paling sering disebut tasnya-tasnya yang ikonik dan jadi wishlist para bag enthusiasts. Akupun begitu. Tapi, the world of Hermès is actually so captivating to discover beyond just its bags. Keseluruhan craftmanship semua produk-produknya mindblowing sih untuk aku. Dan yang pertama kali membuka ketertarikan aku dengan produk-produknya di luar tas adalah agendanya. Random, ya? Di suatu hari yang fitri sekitar tahun 2009 aku untuk pertama kalinya punya barang dari Hermès yang namanya The Ulysse PM Agenda in Togo Calfskin. I had never seen leather goods so impossibly smooth and buttery before. No, I hadn’t even stepped foot into an Hermès store at that time. But that day, I knew I had to work hard, because I just realized that I appreciate life’s finest details. And that’s also when I realized: luxury isn’t just a preference, it’s a motivation.

Sebelum kamu berpikir bahwa aku di tahun 2009 ketika berumur 30 tahun dengan 2 anak dan baru saja memulai sebuah bisnis sudah bisa membeli agenda yang harganya jutaan, aku klarifikasi dulu, ya. Jadi di tahun itu, aku punya thrift store di jalan Bangka Raya di mana orang bisa menitipkan barangnya untuk dijual di toko aku. Sebagai pemilik, tentu aku yang kurasi semua barang-barangnya. Pekerjaan yang menyenangkan sekali buat aku karena I love clothes and beautiful things (hence; The Luxury Reports is born). Barang yang dititip beragam, dari high-street brands sampai designer brands.

Ada satu customer yang sering menitipkan barang-barang designernya yang semuanya well-curated. Aku masih ingat barang-barang terakhir yang dibawanya. Ada ikat pinggang rantai Chanel yang sayangnya kekecilan di aku. Ada Louis Vuitton Monogram Keepal. Tas Fendi Baguette. Kalung dari berbagai designer, sepatu, dan salah satunya yang aku langsung jatuh cinta, agenda Hermès agenda yang tentunya pada saat itu akupun nggak tau namanya apa. But I always have a thing with agenda. Sampai sekarang aku masih menulis di agenda. It serves a purpose for me. Bisa untuk menulis to- do list, menuangkan segala yang ada di otak, curhat atau mencatat minutes of meeting.

Untungnya, agenda tersebut dijual dengan harga yang sangat-sangat affordable untuk sebuah barang Hermès, hanya lima ratus ribu rupiah. Kalau ini agenda biasa, tentu harga segitu di tahun 2009 bisa dibilang mahal. But we’re talking about Hermès product. So it never made it into my store display cause it went straight home with me!

And the beautiful thing is, I still have it to this day. 16 years later, it still look like the day I found it. Ya, paling ada sih tambahan coretan pulpen di covernya. I can use it again and again because I can always buy the refill paper. Walaupun jadinya kertas refillnya lebih mahal dari agendanya, but it’s all worth it karena setiap menulis di situ jadi bikin semangat. Again, luxury is a motivation 🙂

Sebagai bentuk perayaan dalam menjalankan era baru di 2025 ini, aku akhirnya membeli agenda Ulysse lagi tapi yang ukurannya lebih besar, yang MM. Agenda ini jadi permanent resident di meja kerja aku di kantor baru. Semoga akan banyak ide-ide baru yang dicatat di agenda ini yang teralisasikan ya.

What about you? What was your first Hermès item?

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *