Kisah Oemah Etnik dalam Menampilkan Budaya dengan Sentuhan Modern

Ada begitu banyak wastra Nusantara yang perlu dilestarikan, dan Oemah Etnik adalah brand yang sukses menjaganya melalui desain yang segar dan timeless.

Merayakan budaya dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang wearable dan chic bukanlah hal mudah. Batik, tenun, dan banyak kain tradisional lainnya adalah kekayaan Nusantara yang sudah semestinya dijaga, tapi bagaimana menggunakannya tanpa terkesan terlalu berat dan tradisional adalah sebuah challenge tersendiri.

Namun, Oemah Etnik berhasil mewujudkannya dan menjadi brand lokal yang bertahan hingga lebih dari satu dekade lamanya. Saya senang sekali ketika The Luxury Reports berkesempatan berbincang dengan sang founder, Rizki Triana. Perempuan yang akrab disapa Kiki ini berbagi banyak tentang perjalanan membangun brand ini, hingga apa saja tantangan yang dilaluinya hingga Oemah Etnik menjadi seperti sekarang ini, terlebih dengan latar belakangnya yang bukan di bidang fashion.

Kalau kamu selalu tertarik dengan kisah di balik layar beragam label fashion dan keindahan sebuah proses, tulisan ini mungkin akan memberikan inspirasi baru.

TLR: Bagaimana awal mula kisah mendirikan Oemah Etnik sampai sekarang sudah berdiri 12 tahun?

Rizki Triana: Very humble beginning, waktu itu aku masih kuliah di Universitas Indonesia lalu terpikir untuk buat brand fashion. Aku ikut batik trip ke Solo bersama teman-teman kuliah, dan aku jadi jatuh cinta dengan batik. Aku melihat kalau dalam proses pembuatan batik saat itu, orang-orangnya sudah berusia sekitar 70-80 tahun. Kenapa nggak ada anak muda yang mau membatik? Karena mereka memang nggak mau melanjutkan, bagi mereka industrinya nggak keren, mereka lebih pilih bekerja di pabrik atau kantoran.

Tahun 2012 itu belum ada anak-anak muda yang senang pakai batik seperti sekarang, apalagi dengan bangga berkain dan sebagainya. Jadi, sesederhana itu saja awal kehadiran Oemah Etnik (OE), karena aku ingin mewariskan budaya ke generasi yang lebih muda.

TLR: Awal konsep marketing-nya seperti apa, hingga akhirnya bisa dikenal dengan Oemah Etnik yang sekarang ini?

Rizki Triana: Awalnya kami berjualan online dulu, sempat jual kain saja yang tidak dalam bentuk pakaian, sempat terima order kebaya, pokoknya testing the market, sampai akhirnya bertemu dengan formula OE yang dikenal sekarang ini. Dari sekian banyak kain Nusantara, kami memutuskan untuk memakai batik dan tenun saja, karena dua itu yang paling aman untuk diolah menjadi produk yang lebih modern. Banyak kain Indonesia lain yang bagus banget, misalnya ulos dan songket, tapi itu heavy dan sangat serius. Sementara, core OE adalah kasual dan ready-to-wear. Konsep kasual ini dibuat karena kami ingin batik dan dan tenun ini sesering mungkin dipakai untuk keseharian, seperti meeting, jalan-jalan, bukan hanya untuk formal ocassion.

TLR: Boleh diceritakan tentang keseruan produksi dan prosesnya?

Rizki Triana: Semua produk OE kami olah sendiri, mulai dari mengolah kainnya, membuat siluet yang versatile, sampai membuat hak paten untuk pattern yang kami miliki. 100% buatan lokal.

Aku berlatar belakang ilmu komunikasi, bukan desain atau sekolah fashion. Jadi, menurutku, bagian paling seru adalah saat brainstorm dan produksi. Kami duduk bareng, dan memutuskan bersama apa konsep koleksi selanjutnya, setiap orang pitch dengan tema yang sudah dipersiapkan masing-masing. Bukan sekadar warnanya atau desainnya, tapi juga jenis kainnya, motifnya, dan apa filosofinya.

Misalnya, untuk koleksi Raya, kami membuat motif akar, karena ketika Idul Fitri, semuanya kembali ke “akar”, kembali ke keluarganya, ke kampung halamannya. Warna yang dipilih harus netral supaya lebih harmonis, karena banyak customer OE yang memesan untuk seragaman dengan anggota keluarganya. Aku nggak ingin terlihatnya jadi terlalu ramai atau terlalu tabrakan di Hari Lebaran.

Dari start sampai akhirnya rilis, menurutku yang paling menarik adalah proses brainstorm itu, karena semua bergabung, mulai dari tim marketing, tim desain, dan tim produksi. OE membuat filosofi sendiri dan hadir dengan keterlibatan bersama. Aku ingin OE itu jadi brand yang beyond fashion, jadi ketika merilis sesuatu, bukan sekadar menjual produk, tapi selalu ada pesan di baliknya.

TLR: Menarik banget ya, jadi setiap koleksi adalah hasil dari proses panjang yang sangat matang. Menurut kamu, price point Oemah Etnik apakah selaras dengan proses tersebut? Bagaimana tanggapan tentang netizen yang sering berpikir bahwa brand lokal harus murah?

Rizki Triana: Kata-kata affordable itu sangat tergantung pada setiap orang ya. Apa yang orang itu nilai, apa yang orang itu biasa pakai. Kalau dibandingkan dengan brand lokal yang produknya basic seperti t-shirt, OE memang punya harga di atasnya. Menurut aku, harga yang diberikan oleh OE sudah sesuai dengan value dan proses yang ditempuh. Semua produksi kami di Indonesia, pengrajin dari Indonesia, dengan bahan nyaman yang bisa dipakai untuk jangka waktu lama.

Jadi, aku nggak pernah melihat ke kompetitor dan terlalu membanding-bandingkan dengan yang lain. Bagiku, yang terpenting OE berusaha menyajikan yang terbaik, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Kami fokus ke perbaikan produk, perbaikan servis. Dengan sendirinya, kami akan menarik customer yang sejalan dengan value kami.

TLR: Gimana cara Oemah Etnik mengedukasi customer tentang craftsmanship?

Rizki Triana: Kami sebenarnya cukup 360, dari pertama rilis pastinya di digital semuanya diceritakan, media juga selalu kami sertakan setiap ada koleksi baru. Para sales advisor pun selalu dapat training dan bisa menjadi spokesperson OE, customer juga selalu mendapat kartu yang berisi tentang penjelasan produknya dalam setiap packaging yang dikirimkan. Kami juga sangat aktif menggelar community events. Kami sering berkolaborasi dengan brand lain seperti Wilsen Willim, bahkan dengan hotel seperti Hotel Tentrem Jakarta. Dan setiap kali melakukan itu semua, kami nggak bosan-bosan menceritakan hal yang sama, berulang kali kepada para customer.

TLR: Boleh diceritakan apa yang menginspirasi lahirnya OE Signature? Apa perbedaan yang signifikan dengan reguler Oemah Etnik?

Rizki Triana: OE Signature dibuat karena panggilan dari hati. Pertama, ingin menghadirkan sesuatu yang lebih berarti dan bertanggungjawab terhadap lingkungan. Kedua, mau membuat lini premium yang bisa lebih bebas untuk eksplor desain. Ketiga, aku mau menyasar global market. OE Signature ini lebih stand out.

Yang membuatnya spesial, kain tenun yang dipakai itu memakai teknik pewarnaan organik. Contohnya, yang berwarna pink ini, menggunakan kayu secang dan daun mahagoni. OE Signature juga menggunakan kain percanya sebagai bagian dari desain, tapi orang-orang nggak akan menyadarinya secara langsung, karena kami tidak mendesain sebagai bentuk patchwork yang kaku, tapi lebih menyatu ke keseluruhan motif pakaiannya.

Jadi ketika dipakai akan terlihat simpel tapi tetap memiliki complexity, dan tentunya aman bagi lingkungan. Dari 2023 lalu, lini ini sudah punya 3 series sampai sekarang.

TLR: Apa rencana ke depannya untuk Oemah Etnik?

Rizki Triana: Next big thing kami adalah ingin hadir di Bali. Menurut kami, Bali adalah pasar yang sangat potensial. Saat berlibur, banyak orang juga senang berbelanja pakaian, bahkan untuk dipakai langsung di keesokan harinya. Gerainya nanti berbentuk experience store yang ada instalasi seninya, dan ada produk eksklusif yang hanya ada di Bali. Jadi, tempatnya cukup luas dan di sebelahnya nanti akan ada di coffee shop atau resto, aku akan ajak teman-teman dari brand lokal lain untuk mengisi gerai itu juga, jadi sangat cocok buat one stop shopping. Saat ini, brand lokal harus pintar-pintar mencari cara untuk terus berkembang. Punya produk bagus dan berkualitas itu wajib, tapi juga harus menyajikan experience yang lebih berarti, supaya menarik perhatian customer.

Images: Courtesy of Oemah Etnik, Courtesy of The Luxury Reports.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *